Kamis, 29 Desember 2016

Teknologi dan kemiskinan

TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN


1) pengertian Teknologi
Para sarjana telah banyak memberikan pengertian tentang teknologi, di mana masing-masing berbeda dalam sudut pandangannya. Menurut Walter Buckingham yang di maksud dengan teknologi adalah ilmu pengetahuan yang diterapkan ke dalam seni industri serta oleh karenanya mencakup alat-alat yang memungkinkan terlaksananya efisiensi tenaga kerja menurut keragaman kemampuan.
Dari pengertian teknologi di atas dapat kecenderungan bahwa teknologi dianggap sebagai penerapan ilmu pengetahuan, dalam pengertian bahwa perapan itu menuju keperbuatan atau perwujudan sesuatu. Kecenderungan ini pun mempunyai suatu akibat di mana kalau teknologi dianggap sebagai penerapan ilmu pengetahuan, dalam perwujud maka dengan sendirinya setiap jenis teknologi atau bagian ilmu pengetahuan dapat diteknologikan. Dengan demikian teknologi tidak dapat ada tanpa berpasangan dengan ilmu pengetahuan, dan pengetahuan tentang teknologi perlu disertai oleh pengetahuan akan ilmu pengetahuan yang menjadi pasangannya.
Macam-macam Teknologi
Ada tiga macam teknologi yang sering dikemukakan para ahli, yaitu :
      a.       Teknologi modern
Jenis teknologi modern ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut  :
-          Padat modal
-          Mekanis elektris
-          Menggunakan bahan import
-          Berdasarkan penelitian mutakhir dan lain-lain
       b.      Teknologi madya
Jenis teknologi madya ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
-          Padat karya
-          Dapat dikerjakan oleh ketrampilan setempat
-          Menggunakan alat setempat
-          Berdasarkan suatu penelitian
       c.       Teknologi tradisional
-          Teknologi ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
-          Bersifat padat karya (banyak menyerap tenaga kerja )
-          Menggunakan ketrampilan setempat
-          Menggunakan alat setempat
-          Menggunakan bahan setempat
-          Berdasarkan kebiasaan atau pengamatan.
2) pengertian kemiskinan
Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk problem yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat di Negara-negara yang sedang berkembang. Masalah kemiskinan ini menuntut adanya suatu upaya pemecahan masalah secara berencana, terintegrasi dan menyeluruh dalam waktu yang singkat. Upaya pemecahan masalah kemiskinan tersebut sebagai upaya untuk mempercapat proses pembangunan yang selama ini sedang dilaksanakan.
Istilah kemiskinan sebenarnya bukan merupakan suatu hal yang asing dalam kehidupan kita. Kemiskinan yang dimaksud di sini adalah kemiskinan ditinjau dari segi material (ekonomi).
Menurut Prof. dr. emil Salim yang dimaksud dengan kemiskinan adalah merupakan suatu keadaan yang dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok.
Atau dengan istilah lain kemiskinan itu merupakan ketidak mampuan dalam memenuhi kebutuhan pokok, sehingga mengalami keresahan, kesengsaraan atau kemelaratan dalam setiap langkah hidupnya.
Factor-faktor timbulnya kemiskinan
Ada beberapa factor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan yaitu :
       a.       Pendidikan yang terlampau rendah
Dengan adanya tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang kurang mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupannya. Keterbatasan pendidikan/keterampilan yang dimiliki menyebabkan keterbatasan kemampuan untuk masuk dalam dunia kerja. Atas dasar kenyataan di atas dia miskin karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
      b.      Malas bekerja
Sikap malas merupakan suatu masalah yang cukup memprihatinkan, karena masalah ini menyangkut mentalitas dan kepribadian seseorang. Adanya sikap malas ini seseorang bersikap acuh tak acuh dan tidak bergairah untuk bekerja. Atau bersikap pasif dalam hidupnya (sikap bersandar pada nasib). Sikap malas ini cenderung untuk menggantungkan hidupnya pada orang lain, baik dari keluarga, saudara atau family yang dipandang mempunyai kemampuan untuk menanggung kebutuhan hidup mereka.
      c.       Keterbatasan sumber alam
Kemiskinan akan melanda suatu masyarakat apabila sumber alam nya tidak lagi memberikan keuntungan bagi kehidupan mereka. Sering dikatakan oleh para ahli, bahwa masyarakat itu miskin karena memang dasarnya “alamiah miskin”.
Alamiah miskin yang dimaksud di sini adalah kekayaan alamnya, misalnya tanahnya berbatu-batu, tidak menyimpan kekayaan mineral…dan sebagainya. Dengan demikian layaklah kalau miskin sumber daya alam miskin juga masyarakatnya.
      d.      Terbatasnya lapangan kerja
Keterbatasan lapangan kerja akan membawa konsekuensi kemiskinan bagi masyarakat. Secara ideal banyak orang mengatakan bahwa seseorang/masyarakat harus mampu menciptakan lapangan kerja baru. Tetapi secara factual hal tersebut kecil kemungkinannya, karena adanya keterbatasan kemampuan seseorang baik yang berupa “skill” maupun modal.
       e.       Keterbatasan modal
Keterbatasan modal adalah sebuah kenyataan yang ada di Negara-negara yang sedang berkembang, kenyataan tersebut membawa kemiskinan pada sebagian besar masyarakat di Negara tersebut. Seorang miskin sebab mereka tidak mempunyai modal untuk melengkapi alat ataupun  bahan dalam rangka menerapkan keterampilan yang mereka miliki dengan suatu tujuan untuk memperoleh penghasilan. Keterbatasan  modal bagi Negara-negara yang sedang berkembang dapat diibaratkan sebagai suatu lingkaran yang tak berujung pangkal baik dari segi permintaan akan modal maupun dari segi penawaran akan modal.
       f.       Beban keluarga
Semakin banyak anggota keluarga akan semakin banyak/meningkat pula tuntunan/beban untuk hidup yang harus dipenuhi. Seseorang yang mempunyai anggota keluarga banyak apabila tidak diimbangi dengan usaha peningkatan pendapatan sudah pasti akan menimbulkan kemiskinan karena mereka memang berangkat dari kemiskinan. Kenaikan pendapatan yang dibarengi dengan pertambahan jumlah keluarga, berakibat kemiskinan akan tetap melanda dirinya dan bersifat laten.
Dalam kenyataannya, sistem perekonomian, sistem tata nilai dan sikap manusia dalam mengelola kekayaan alam yang dikuasai sangat berlainan. Di satu pihak orang ingin selalu (terus menerus) meningkatkan kekayaan dan taraf hidupnya setinggi mungkin. Di pihak lain ada penduduk dunia yang cukup santai dalam menggunakan kekayaan sumber-sumber daya tanpa memperdulikan upaya-upaya pelestariannya.
Peperangan, konflik politik dan adanya pengungsian penduduk yang masih dan terus berlangsung di dunia hingga saat ini menunjukan adanya sikap tamak manusia dan sukarnya dicapai kesamaan pandangan dalam hal memanfaatkan sumber-sumber yang ada. Kalau secara teori dan teknis, dengan ilmu dan teknologinya orang telah dapat meningkatkan daya dukung sumber-sumber dari kehidupan umat manusia yang lebih baik, dalam kenyataan nya Negara-negara maju yang kaya dengan penduduk yang lebih sedikit telah menguasai sebagian terbesar sumber-sumber daya yang ada di bumi, baik lewat pengaruh kekuasaan politik maupun lewat sistem ekonomi liberal yang menjadikan Negara-negara berkembang makin bergantung dan makin tertinggal dalam perkembangan perekonomian dan taraf hidupnya.
Kesenjangan yang ada antara Negara-negara industry maju dengan Negara berkembang makin melebar. Maka muncullah akhir-akhir ini upaya-upaya menyelaraskan perkembangan dengan dialog utara selatan, dan seruan yang cukup vocal untuk mewujudkan tata perekonomian dunia baru.
Lepas dari upaya banyak bangsa untuk mewujudkan tata kehidupan yang lebih berimbang, factor jumlah dan pengendalian penduduk serta peningkatan pengetahuan merupakan hal-hal yang sangat esensial, agar kehidupan penduduk Negara-negara berkembang dapat cepat meningkat secara layak.
Dalam sejarah perkembangan perekonomian dunia kemajuan telah dicapai lewat perjuangan dan kerja keras. Pada saat ini banyak orang berpendapat bahwa alih teknologi tidaklah begitu saja dapat diperoleh dan juga tidak selalu menjadikan obat mujarab bagi upaya peningkatan perekonomian Negara-negara berkembang.
Dengan munculnya korporasi-korporasi multi nasional, teknologi sekarang merupakan juga komoditi atau barang dagangan, yang cenderung terkena juga praktek monopoli. Kalau teknik dapat diartikan antara lain sebagai lapangan pengetahuan yang memusatkan perhatiannya pada cara membuat atau membentuk benda-benda materil, yaitu dengan menciptakan atau mewujudkan benda-benda nyata berdasarkan usaha manusia, maka teknologi dapat diartikan sebagai ilmuyang menyelidiki cara-cara kerja dalam teknik. Memang, teknologi sekarang dapat dibeli. Tetapi dengan teknologi maju yang diimpor suatu masyarakat yang sedang membangun belum tentu memperoleh manfaat yang sepadan; kalaupun tidak lalu menjadi demikian tergantung pada penyedia/pemberi teknologi maju. Karena itu banyak Negara berkembang yang ilmu dan teknologinya belum begitu maju ada kalanya lebih memilih pengembangan teknologi madya terlebih dahulu, yaitu teknologi yang tidak memerlukan dasar pengetahuan yang demikian canggihnya dan umumnya dalam penggunaannya masih menyerap cukup banyak tenaga kerja. Di samping mencoba membuat terobosan-terobosan melalui pengembangan teknologi maju untuk mengajar ketertinggalannya, Indonesia juga menggalakkan pengembangan dan penerapan teknologi tepat guna, yaitu bentuk teknologi yang lebih banyak mendayagunakan bahan-bahan setempat dan bersifat member manfaat lansung kepada sebagian besar masyarakat yang berpenghasilan kurang. Dengan menerapkan teknologi maju yang hanya memerlukan sedikit tenaga (yang ahli) dampak negative yang mungkin timbul adalah : (1) diberhentikan sebagian tenaga kerja, yang berarti menambah jumlah pengangguran, (2) karena efisiensi kerja pemakayan teknologi maju yang tinggi, usaha-usaha industry kecil yang masih memakai teknologi yang lebih bersahaya tak mampu bersaing dan terancam bangkrut, (3) bila teknologi maju diperoleh lewat membeli, tanpa disertai usaha menyiapkan pengetahuan yang diperlukan untuk melayani dan mengembangkannya, akan cenderung terjadi ketergantungan yang berkelanjutan kepada pihak pemberi/penyedia teknologi maju tersebut.
Dalam kenyataan nya sekarang, banyak Negara berkembang  menjadi demikian bergantung kepada Negara-negara industry maju oleh sebab keinginan kuat segera menerapkan teknologi maju seperti yang banyak terdapat di negeri industri, dan dengan begitu saja menerapkan teori pengembangan sebagaimana yang telah berlaku atau dipakai oleh Negara Eropa dan Amerika. Ketergantungan tidak saja terbatas pada bidang ilmu dan teknologi (lewat bantuan saran-saran para konsultan dan program pendidikan dan latihan yang dihadiahkan oleh Negara-negara industri maju), tetapi juga dibidang perekonomian dan keuangan Negara yang bersangkutan. Ini ternyata dari banyaknya Negara berkembang yang mengalami kesulitan dalam pengembalian pinjaman (hutang) dari Negara industri sementara terus menemui kesulitan dalam pembiayaan pembangunannya, yang berakibat adanya upaya untuk menangguhkan atauu penjadwalan kembali pembayaran hutang Negara-negara berkembang yang angka debt-serviceratio-nya (DRS =angka rasio nilai ekspor dan jumlah hutang luar negeri yang harus di bayar setahun) sudah demikian tinggi.
Upaya peningkatan taraf kehidupan tida lepas dari masalah kependudukan. Masalah penduduk menyangkut persoalan jumlah dan persoalan mutu. Keberhasilan peningkatan taraf hudup tidaklah bergantung semata-mata pada kemampuan fisik yang lebih baik. Kualitas non fisik penduduk yang serupa sikap hemat, disiplin, kerja keras, semangat mengembangkan diri dan sebagainya merupakan factor-faktor yang tidak kalah pentingnya bagi usaha meningkatkan taraf hidup. Jepang mmerupakan satu contoh bangsa yang telah demikian berhasil dengan cepat meningkatkan taraf hidup dan perekonomiannya (baik sejak masa restorasi maupun dalam kebangkitannya kembali dari kehancuran oleh kalah perang) dengan modal kualitas non fisik penduduknya.
Secara umum peningkatanperekonomian akan bergantung pada tersedianya modal dan juga tingginya produktivitasusaha. Modal akan terbentuk lewat investasi dari hasil tabungan. Orang akan lebih bisa menabung kalau hidupnya hemat. Sedang produktivitas usaha akan berkaitan dengan pengetahuan, efisiensi kerja dan factor-faktor lain yang berkaitan dengan kualitas non fhisik penduduk.
      d.      Teknologi dan kemiskinan
Salah satu penyebab kesengsaraan atau penderitaan manusia adalah kemiskinan. Kemiskinan biasanya sejalan dengan kelaparan dan wabah penyakit, yang sering kali terjadi di Negara-negara yang sedang berkembang. Lapisan masyarakat banyak yang hidup dalam kemiskinan berusaha mati-matian untuk dapat mencapai kehidupan yang menyenangkan. Tetapi kebanyakan tetap tinggal terhambat pada garis kemiskinan dan bahkan di bawah kemiskinan.
Perlu diketahui salah satu unsure terpenting dalam pertumbuhan ekonomi adalah kemajuan teknologi.
Kemajuan teknologi mengakibatkan dalam struktur produksi maupun dalam komposisi tenaga kerja yang diperlukan dalam proses produksi mengalami perubahan. Bagi tenaga kerja yang mempunyai ketrampilan teknis yang tinggi, akan terbuka lebih banyak kesempatn-kesempatan kerja yang baik. Tetapi tenaga kerja yang tida berketrampilan atau yang hanya mempunyai ketrampilan rendah akan tergeser akan kadang-kadang kehilangan sama sekali pekerjaan mereka.
Selama dua dasawarsa (1960 – 1980) yang baru lalu beberapa Negara berkembang dari hasil pembangunan telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat malahan lebih  pesat dari yang pernah dialami oleh Negara-negara industry barat selama tahap-tahap permulaan dari proses industrialisasi mereka, namun pertumbuhan ekonomi yang pesat tersebut pada umumnya ternyata tidak terlalu berhasil dalam penyediaan kesempatan kerja yang produktif bagi penduduk.
Bahkan di Negara-negara yang telah mengalami penurunan dalam prosentase penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan penurunan relatip sering di tiadakan oleh pertambahan penduduk yang pesat, sehingga hamper tidak mengurangi jumlah absolute penduduk yang miskin. Salahsatu kasus yang dapat disebut dalam hubungan tersebut adalah pulau jawa, yang selama masa 1967-1976 telah mengalami penurunan yang cukup besar dalam persentase penduduk yang hidup dalam kemiskinan, namun gagal dalam mengurangi secara berarti jumlah absolute penduduk yang miskin, karena pertumbuhan penduduk yang pesat.
Di samping tidak tercapainya pengurangan secara berarti dari kemiskinan, penganguran serta setengah penganguran, maka pertumbuhan ekonomi yang pesat di banyak Negara berkembang juga disertai oleh ketimpangan yang semakin meningkat dalam pembagian pendapatan (ketimpangan relatif) hal tersebut memang tidak mengherankan bagi ahli lain ekonomi. Misalnya Kuznets mengemukakan bahwa dalam masa pertumbuhan ekonomi selalu ada ketimpangan redistribusi pendapatan, dimana dalam pertumbuhan ekonomi yang cepat, golongan berpenghasilan rendah selalu ketinggalan kemajuan, tidak mampu mengikuti berpartisipasi. Karenanya mereka tidak mampu memanpaatkan proses redistribusi pendapatannya.
Di Indonesia pola perkembangan pembangunan juga mengikuti pendapatan yang dikemukakan Kuznets, artinya golongan miskin kurang terjamah oleh hasil-hasil pertumbuhan ekonomi. Mengapa mereka tidak terangkat, padahal pemerintah telah mengambil kebijaksanaan penyebaran proyek-proyek ke daerah-daerah, desa-desa, misalnya adanya kredit bimas, KIK, KMKP, KCK, padat karya dan sebagainya.
Bila diteliti golongan-golongan miskin yang tidak terjamah oleh hasil-hasil pembangunan, karena :
      a)      Ketimpangan dalam peningkatan pendidikan.
Selama belum ada kewajiban belajar golongan miskin tida akan mampu berpartisipasi mengenyam peningkatan anggaran pendidikan.
      b)      Ketidakmerataan kemampuan untuk berpartisipasi. Untuk berpartisipasi diperlukan tingkat pendidikan, ketrampilan, relasi, dan sebagainya. Golongan miskin tidak memilikinya.
      c)      Ketidakmerataan pemilikan alat-alat produksi. Golongan miskin tidak memiliki alat-alat produksi, penghasilannya untuk makan saja sudah susah, sehingga tidak mungkin membentuk modal.
     d)     Ketidakmerataan kesempatan terhadap modal dan kredit yang ada. Modal dan kredit pemberiannya menghendaki syarat-syarat tertentu dan golongan miskin tidak mungkin memenuhi persyaratanya.
     e)      Ketidamerataan menduduki jabatan-jabatan. Untuk mendapat pekerjaan yang dapat memberi makan pada keluarga saja sudah susah, apalagi menduduki jabatan-jabatan yang sering memerlukan relasi tertentu dan persyaratan tertentu.
     f)       Ketidamerataan mempengaruhi pasaran. Karena miskin dan pendidikannya rendah, maka tidak mungkin golongan niskin dapat mempengaruhi pasaran.
     g)      Ketidamerataan kemampuan menghindari musibah misalnya penyakit, kecelakaan, dan ketidaberuntungan lainnya. Bagi golongan miskin dibutuhkan bantuan untuk dapat mengatasi musibah tersebut. Mengharapkan dari mereka sendiri untuk dapat mengangkat dirinya tanpa pertolongan, sukar dipastikan.
     h)      Laju pertambahan penduduk lebih memberatkan golongan miskin. Dengan jumlah keluarga besar, mereka sulit dapat menyekolahkan, member makan, dan pakayan secukupnya. Hanya keluarga yang kaya atau berpenghasilan besar sajalah yang mampu.
Dapatlah dipastikan bahwa golongan berpenghasilan rendah, karena kurang terjamah pendidikan, tidak memiliki sarana-sarana misalnya kredit, modal, alat-alat produksi, relasi dan sebagainya, tidak akan mampu berpartisifasi dalam pertumbuhan ekonomi dan menikmati pembagian hasil-hasilnya tanpa adanya kebijaksanaan khusus yang ditujukan untuk mengangkat mereka.
Penelitian yang diadakan di daerah perkotaan di jawa, sundrum telah menemukan bahwa selama tahun 1970 sampai tahun 1976 ternyata pembagian pendapatan memburuk, terutama di ibukota Jakarta. Dari hasil survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) menunjukan bahwa selama kurun waktu 1970 sampai 1976 persentase penduduk Indonesia yang miskin yaitu hidup di bawah tingkat kemiskinan telah berkurang. Hal tersebut berlaku baik bagi Indonesia sebagai keseluruhan, maupun jika diadakan perincian menurut daerah pedesaan dan daerah perkotaan, baik di jawa maupun di luar jawa. Tingkat hidup absolute semua golongan masyarakat telah meningkat, sehingga kemiskinan absolute di Indonesia selama Repelita 1 dan tahun-tahun pertama Repelita 11 telah berkurang. Perhitungan berbagai peneliti dapat disimpulkan bahwa persentase penduduk Indonesia yang miskin telah menurun dari hamper 60% dalam tahun 1970 sampai kurang lebih 45% dalam tahun 1976.
Di lain pihak hasil-hasil SUSENAS telah memperlihatkan, bahwa pembagian pendapatan selama kurun waktu yang sama telah memburuk. Hal tersebut disebabkan karena laju kenaikan pendapatan golongan yang berpendapatan tinggi telah meningkat jauh lebih pesat daripada penaikan golongan yang berpendapatan rendah.
Di samping perkembangan tersebut, maka pembagian pendapatan antara penduduk daerah perkotaan dan daerah pedesaan juga telah memburuk. Hal tersebut disebabkan karena laju kenaikan pendapatan penduduk perkotaan selama kurun waktu 1970 sampai 1976 rata-rata bertambah dua setengah kali lebih cepat dari pada penduduk pedesaan.
Juka dirinci menurut daerah maka ketimpangan antara pendapatan penduduk perkotaan dan pedesaan di jawa lebih besar daripada di luar jawa.
Usaha mengatasi kemiskinan
Dari kegagalan kebijaksanaan konversional mengenai pertumbuhan ekonomi di banyak Negara berkembang dalam mengurangi kemiskinan, pengangguran dan disparitas ( ketimpangan) pendapatan secara berarti telah memaksa baik para perencana ekonomi dan teknokrat maupun para peneliti ekonomi untuk kembali mempelajari secara sungguh-sungguh kebijaksanaan tersebut, serta mendorong mereka untuk mempelajari alternative-alternatif yang realities bagi kebijaksanaan pertumbuhan ekonomi yan konvensional. Dalam hal ini; pendekatan kebutuhan dasar dalam perencanaan pembangunan merupakan hasil yang logis dari sesuatu proses reorientasi yang panjang dalam pemikiran tentang pembangunan.
Dari hasil-hasil penelitian kemudian pusat perhatian para ahli lambat laun mulai bergeser dari tekanan pada penciptaan lapangan kerja yang memadai ke penghapusan kemiskinan, dan akhirnya ke penyediaan barang-barang dan jasa-jasa kebutuhandasar bagi seluruh penduduk, yang berupa dua perangkat, yaitu :
    a)      Perangkat kebutuhan konsumsi perorangan akan pangan, sandang dan pemukiman.
    b)      Perangkat yang mencakup penyediaan jasa umum dasar, seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, saluran air minum, pengangkutan, dan kebudayaan.
Di samping kedua perangkat tersebut, kebutuhan dasar atau kebutuhan dasar manusiawi kadang-kadang juga digunakan untuk mencakup tiga sasaran lain, yaitu:
    1)      Hak atas pekerjaan produktif dan yang memberikan imbalan yang layak, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar setiap rumah tangga atau perorangan.
    2)      Prasarana yang mampu menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk.
    3)      Partisipasi seluruh penduduk, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam pelaksanaan proyek-proyek yang berhubungan dengan penyediaan barang-barang dan jasa-jasa kebutuhan dasar.
Pengalaman dari Negara-negara Asia Timur,yaitu korea, Taiwan, jepang menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat dengan disertai pemerataan hasil-hasil pembangunan dapat tercapai karena di Negara-negara tersebut program pembangunan pedesaan (rural development program) sangat diutamakan.



sumber :http://www.wasiclub.id/2016/04/teknologi-dan-kemiskinan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar