Jumat, 19 Oktober 2018

Dioda

Pengertian Dioda.
Dioda adalah salah satu komponen dasar elektronik semikonduktor yang dibuat secara khusus dengan bahan tertentu yang terdiri gabungan dua buah elektroda yakni anoda ( + ) dan katoda ( - ). ( Lihat sekilas bentuk batu batterai ya ). Anoda biasa disebut elektroda positif dan disingkat ( P ),sedangkan anoda disebut elektroda negatif dan biasa disingkat ( N ). Bila anda melihat bentuk batu baterai,ya hampir seperti itu lah kira kira,diujung satu adalah kutub positif dan di kutub lainnya adalah kutub negatif dan hanya dapat mengalirkan arus secara searah. bila terbalik tidak dapat mengalirkan arus,walaupun bisa maka arus yang lewat sangat kecil sekali.
Fungsi Dioda.
Seperti yang telah saya jelaskan diatas,fungsi utama dari dioda adalah sebagai penyearah arus,setiap arus yang hendak melewati kutub yang salah akan di stop ( tidak boleh lewat ). Karena fungsi yang unik inilah dioda dapat digunakan untuk mengubah arus dari tegangan bolak balik / AC menjadi arus searah atau DC. Untuk mengubah jenis tegangan ini pun dibutuhkan lebih dari satu buah dioda,tepatnya 4 dioda dan dapat digunakan untuk menyearahkan arus baik hanya setengah gelombang ataupun satu gelombang penuh. Berikut adalah rangkaian skema untuk penyearah tegangan dari travo CT.
  

skema rangkaian penyearah arus
Bila dipikir pikir Fungsi dioda ini mirip dengan katup buang dan katub hisap yang terdapat dalam mesin mobil bukan,namun pada dioda adalah versi elektrik dari fungsi katup tadi.
Simbol.
Untuk simbol dari dioda pada papan PCB / MotherBoard berupa tanda arah panah yang pada ujung panag terdapat garis melintang memotong arah busur yang diartikan arus dapat lewat dari ujung ini,sedangkan dari ujung lain arus tidak dapat masuk. 
jenis-jenis dioda simbol
Jenis-jenis Dioda – Jika Anda melihat perangkat elektronik pada zaman dahulu, tentulah Anda mendapati bahwa semua peralatan tersebut berukuran sangat besar. Dikarenakan pada saat itu belum ditemukan komponen elektronik dengan ukuran yang lebih kecil dan canggih seperti sekarang ini.
Perubahan besar dalam industri elekronik terjadi pada tahun 1940-an, dimana pada saat itu baru saja ditemukan komponen transistor. Disitulah awal mula kemajuan sistem elektronik yang komplek berasal, dengan semakin mengecilnya ukuran komponen elektronika yang masih terus mengecil hingga saat ini.
Perkembangan teknologi pada era modern ini telah mebawa pengaruh besar terhadap kemajuan dalam proses pembuatan dioda. Hal ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya dioda yang memiliki bentuk dan ukuran yang bermacam-macam. Setiap dioda tersebut memiliki fungsinya masing-masing di dalam sistem elektronik.
Sebelum lebih jauh membahas macam-macam dioda, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa itu yang dimaksud dengan dioda dan bagaimana cara kerjanya.
Dioda adalah sebuah komponen elektronika semikonduktor yang terdiri dari 1 buah junction atau persambungan P-N, atau juga sering disebut sebagai komponen yang terdiri dari 2 lapisan semikonduktor P (positif) dan N (negatif). Dioda memiliki fungsi untuk menghantarkan arus listrik pada saat bias maju (forward bias) dan menghambat arus listrik pada saat bias balik (reverse bias).
Bias maju atau forward bias terjadi ketika Anoda dioda diberi tegangan positif dan Katoda dioda diberi tegangan negatif. Sebaliknya, jika Anoda dibei tegangan negatif dan katoda diberi tegangan positif, maka akan terjadi bias yang dinamakan bias balik atau reverse bias.
  
1. Dioda Biasa
simbol dan bentuk dioda

Dioda ini adalah yang paling sering kita jumpai diberbagi perangkat elektronik. Simbol dan bentuk dioda dapat Anda lihat pada gambar di atas. Bentuk simbolnya menujukkan karakteristik dioda itu sendiri. Gamabr segitiga pada simbol menunjukkan arah aliran arus listrik dan garis lurus menujukkan bahwa arus listrik dari arah yang berlawanan tidak bisa melewati dioda.
Dioda mempunyai dua terminal, yaitu terminal positif yang disebut anoda dan terminal negatif yang disebut katoda. Pada komponen dioda terdapat sebuah garis yang dibuat agar sesuai dengan simbol dioda dan membantu mengetahui posisi terminal anoda dan katoda. Karena jika posisi kaki dioda terbalik maka piranti elektronik tidak bisa menyala.

a. Sebagai Saklar

Dioda dapat digunakan sebagi saklar, dengan cara mengatur bentuk tegangan luar yang diberikan pada kedua terminal dioda. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa saat forward bias dioda akan mengalirkan arus listrik dan saat reverse bias dioda akan memutus aliran listrik. Dimana cara kerja dioda ini mirip dengan fungsi saklar pada umumnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut.


karakteristik dioda sebagai saklar
Pada gambar diatas secara berurutan adalah (a) simbol dioda, (b) karakteristik dioda, (c) karakteristik dioda ideal jika difungsikan sebagai saklar. Sebagaimana yang dapat dilihat pada gambar (c) nilai iD (arus dioda) bernilai ≠ nol (ON) jika tegangan anoda lebih positif daripada tegangan katoda. Sedangkan iD akan bernilai 0 (OFF) jika tegangan katoda lebih negatif daripada tegangan tegangan katoda.

b. Sebagai Rectifier (Penyearah)

dioda penyearah satu gelombang penuh

 Selain sebagai switch atau saklar dioda juga memiliki fungsi utama sebagai penyearah arus listrik. Seperti yang telah dijelaskan diatas, jika ada arus yang melewati kutub dengan arah yang salah akan distop sehingga tidak bisa lewat. Karena karakteristik yang unik inilah sehingga dioda dapat dipakai mengubah arus bolak balik (AC) menjadi arus satu arah (DC).
Untuk menyearahkan arus AC menjadi DC secara penuh satu gelaombang maka dibutuhkan 4 buah dioda jika menggunakan transformator non-CT (center tap). Bentuk rangkaian elektronik penyearah satu gelombang penuh (full wave rectifier) dapat Anda lihat pada gambar di atas  

2. Dioda Bridge

dioda rectifier
Dioda bridge sebenarnya fungsinya tidak jauh berbeda dengan dioda lainnya. Hanya saja dioda ini memiliki kelebihan dalam kemudahan pemakaiaanya. Jika kita ingin membuat penyearah satu gelaombang penuh dibutuhkan 4 buah dioda, maka dengan dioda jauh lebih mudah karena hanya dibutuhkan 1 buah dioda bridge saja.
Hal ini bisa dilakukan karena di dalam dioda bridge sudah berisi 4 buah dioda yang berguna untuk mengubah arus bolak balik (AC) menjadi arus searah (DC). Cara kerjanya pun sama seperti rangkaian full wave rectifier dengan 4 dioda. Hanya saja pemasangannya lebih mudah karena sudah tertata rapi, sehingga tidak perlu mengatur susunan dioda satu-persatu.
Bentuk dioda bridge sangat bervariasi mulai dari berbentuk bulat, tipis seperti sisir, dan berbentuk kotak seperti meja. Pada setiap dioda bridge terdapat 4 buah terminal yaitu 2 terminal sebagi input sumber listrik AC dan 2 terminal output DC dengan polaritas positif dan negatif. Untuk lebih jelasnya dapat Anda lihat pada gambar di atas.
3. Dioda Zener

dioda zener dan simbol


Dioda zener adalah salah satu jenis dioda yang dibuat dengan cara tertentu sebhingga bisa bekerja pada rangkaian reverse bias. Karakteristik pada rangkaian bias balik berbeda dengan dioda biasa, namun pada rangkaian bias maju karakteristik dan fungsinya sama seperti dioda biasa.
Dioda zener mampu mengalirkan arus listrik yang arahnya berlawan dengan syarat tengangan yang diberikan harus melampaui batas tegangan rusak (breakdown voltage) dioda. Pada umumnya dioda zener dipasang secara terbalik sesuai prinsip reverse bias dan berfungsi sebagai voltage regulator atau pengatur tegangan.
Sebagai contoh, jika kita memasang dioda zener dengan tegangan 2,8 V pada rangkaian dengan sumber tegangan sebesar 24 V maka ketika melewati dioda zener yang dipasang secara bias balik tegangannya akan turun. Nilai tegangan akan terus sama seperti nilai tegangan dioda.
  
4. Light Emitting Diode (LED)


simbol LED
Light Emitting Diode LEd
Light emitting diode adalah dioda sambungan sambungan semikonduktor P-N yang jika dipasang secara forward bias maka akan mengeluarkan cahaya tampak. Simbol dan bentuk dioda bisa Anda lihat pada gambar di atas. Simbol LED bentuk hampir sama dengan simboldioda normal, hanya saja terdapat 2 panah sebagai simbol bahwa LED mengemisikan cahaya.
Jika LED dipasang secara reverse bias maka komponen tersebut tidak akan mengeluarkan cahaya. Penggunaan LED secara reverse bias akan menyebabkan LED menjdi cepat rusak. LED biasa digunakan sebagai indikator pada rangkaian elektronik.
  
5. Photo Diode (PD)


simbol photo diode
Photo Diode
Photo diode merupakan dioda sambungan P-N yang jika dikenai cahaya maka tahanan baliknya akan berubah menjadi lebih kecil sehingga arus listrik bisa melewatinya. Dalam keadaan gelap atau tidak ada cahaya nilai tahanan baliknya sangat besar sehingga tidak menghantarkan arus listrik.
Bentuk simbol PD hampir sama dengan bentuk simbol LED, hanya saja arah panahnya terbalik. Hal tersebut menunjukkan sifat PD yang jika dikenai cahaya maka akan mampu menghantarkan arus listrik. Dalam rangkaian elektronik dioda ini haruslah dipasang secara reverse bias.
6. Dioda Varactor

Dioda Varactor
Dioda varactor adalah dioda semikonduktor dengan sambungan P-N yang dirancang khusus sehingga mempunyai sifat kapasitansi ketika dipasang pada rangkaian sesuai prinsip reverse bias. Dioda varactor juga biasa disebt sebgai dioda variabel kapasitansi (variable capacitance diode) atau varicap diode. Dioda jenis ini biasa digunakan pada rangkaian elektronik seperti pada ponsel, radio, dan televisi.
Bentuk simbol dioda varactor berbentuk seperti gabungan antara simbol dioda dan kapasitor. Hal tersebut sesuai dengan fungsi dioda varactor. Dalam memilih dioda varikap perlu diperhatikan beberapa spesifikasi yaitu minimum voltage break down (V), power dissipation (mW), nilai kapasitansi dioda (pF), dan maximum peak current (A).
7. Dioda Tunnel

Dioda Tunnel
Dioda tunnel adalah jenis dioda semikonduktor dengan sambungan P-N yang diancang khusus sehingga mempu membentuk daerah deplesi menjadi sangat sempit. Hal tersebut bisa terjadi karena dioda tunnel diberi pengotor berat 1000 kali lebih banyak dibandingkan dioda pada umumnya.


karakteristik dioda tunnel
Seperti yang Anda lihat pada gambar karaktristik jenis dioda di atas, bahwa ketika diberi tegangan bias maju dengan nilai yang kecil arusnya semakin meningkat bersamaan dengan bertambahnya nilai tegangan. Akan tetapi ketika terus meningkat hingga mencapai nilai Vp (tegangan puncak) arusnya akan berubah menjadi menurun hingga titik Iv (arus lembah). Jika tegangan terus ditambah lagi maka arus dioda akan terus meningkat lagi.

Sumber :
https://informazone.com/jenis-jenis-dioda/
http://elektrocode.blogspot.com/2015/03/fungsi-dari-dioda-dan-pengunaan.html

Senin, 15 Oktober 2018

Cashflow



Nama : Denis Al Malik Aziz
Kelas : 3IB02
NPM : 11416816
Universitas Gunadarma
Teknik Elektro
Ekonomi Teknik ( Cashflow perusahaan)

Definisi Arus Kas atau Cash Flow Adalah

Arus Kas atau Cash Flow adalah gambaran mengenai jumlah uang yang masuk (cash in flow) dan jumlah uang yang keluar (cash out flow). Arus kas atau cash flow dalam keuangan keluarga sedikit berbeda dengan cash flow dalam perusahaan.
Dalam keuangan keluarga, cash flow yang dimaksud adalah cash flow sesuai dengan cash basis. Sebagai informasi, dalam bisnis atau perusahaan dikenal cash basis dan accrual basis.
  • Cash Flow yang positif berarti: penghasilan Anda lebih besar dari pada pengeluaran.
  • Cash Flow yang negatif berarti: penghasilan Anda lebih kecil dari pada pengeluaran.
·         Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh keluarga atau individu adalah permasalahan mengurus keuangan, alias kesalahan dalam mengurus cash flow.
Penghasilan bulanan setelah dibayar pajak dan potongan, langsung digunakan untuk bayar cicilan dan utang. Setelah itu baru untuk biaya-biaya rumah tangga dan sisanya disisihkan untuk ditabung dan investasi.
Menurut kami, Finansialku.com menyisihkan uang adalah pekerjaan yang sangat berat. Lebih mudah jika Anda memprioritaskan penghasilan untuk ditabung dan diinvestasikan.
Penghasilan setelah pajak dan potongan, digunakan untuk berdonasi (beramal, membayar Zakat atau Perpuluhan). Berdonasi adalah salah satu kewajiban sebagai umat beragama dan sebagai wujud syukur kita.
Setelah itu langsung prioritaskan untuk tabungan dan investasi serta membayar premi asuransi. Sisanya baru digunakan untuk bayar utang dan cicilan serta pengeluaran rumah tangga.
Dengan mengubah urutan tersebut, sebagian besar permasalahan keuangan Anda akan cepat terselesaikan.
Jika Anda amati lebih dalam, maka Anda menemukan dua jenis cash flow, yaitu
  • Pemasukan (cash in flow): uang masuk ke dalam rekening atau dompet Anda.
  • Pengeluaran (cash out flow): uang keluar dari rekening atau dompet Anda.
  • Penghasilan Aktif adalah penghasilan yang didapatkan karena seseorang bekerja menukarkan waktu, tenaga dan pikiran untuk mendapatkan uang. Contoh gaji, bonus, tunjangan, fee, honor, komisi dan lain sebagainya.
  • Penghasilan Hasil Investasi adalah penghasilan yang didapatkan karena uang Anda bekerja menghasilkan pemasukan. (Jadi uang bekerja untuk mendapatkan tambahan uang). Contoh penghasilan dari bunga deposito, penghasilan dari keuntungan penjualan saham, penghasilan dari dividen saham, keuntungan dari kupon obligasi dan lain sebagainya.
  • Penghasilan Pasif adalah penghasilan yang didapatkan karena aset Anda bekerja menghasilkan pemasukan. (Jadi aset bekerja untuk mendapatkan uang). Contoh penghasilan dari uang sewa rumah tahunan, penghasilan dari royalty musik, penghasilan, penghasilan dari iklan di website dan lain sebagainya.

Cash Inflow

Cash inflow merupakan aliran kas yang diakibatkan dari kegiatan transaksi yang menciptakan keuntungan kas. Cash inflow dapat terdiri dari:
  • Hasil penjualan dari produk maupun jasa perusahaan
  • Hasil dari penagihan piutang pada penjualan kredit
  • Hasil penjualan aktiva tetap yang telah ditentukan
  • Hasil penerimaan investasi dari pemilik maupun saham apabila perseroan terbatas
  • Hasil pinjaman atau hutang dari pihak lain
  • Hasil penerimaan pendapatan lain dan sewa

Cash Outflow

Cash outflow merupakan aliran kas yang terdiri dari berbagai macam transaksi yang dapat mengakibatkan beban pengeluaran kas. Cash outflow dapat terdiri dari:
  • Hasil pengeluaran biaya tenaga kerja langsung, bahan baku dan biaya perusahaan lainnya
  • Hasil pengeluaran administrasi penjualan dan administrasi umum
  • Hasil pembelian dari aktiva tetap
  • Hasil pembayaran hutang-hutang pada perusahaan
  • Hasil pembayaran kembali dari investasi si pemilik usaha
  • Hasil pembayaran sewa, bunga, pajak, deviden dan biaya pengeluaran lainnya.

Jenis Pengeluaran dalam Cash Flow Individu dan Keluarga

Pengeluaran secara umum dibedakan menjadi dua jenis yaitu pengeluaran produktif dan pengeluaran konsumtif.
  • Pengeluaran produktif adalah pengeluaran yang bertujuan untuk membeli aset (baik aset kertas maupun aset nyata).
  • Pengeluaran konsumtif adalah pengeluaran yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup (baik keinginan maupun kebutuhan).
Anda dapat mengetahui kondisi kesehatan keuangan Anda (financial health check up) dengan mengetahui cash flow. Dalam prakteknya, Finansialku.com menggunakan 3 rasio keuangan utama dan penting. Ketiganya dapat Anda ketahui dengan Cash Flow. Ketiga rasio tersebut adalah:
  1. Rasio Tabungan: Rasio yang membandingkan antara jumlah uang yang ditabung atau diinvestasikan terhadap pemasukan seseorang. Nilai idealnya adalah minimal 20%. Lebih besar dari 20% berarti lebih baik.
  2. Rasio Pembayaran Cicilan: Rasio yang membandingkan kemampuan seseorang melunasi atau membayar tagihan, dibandingkan dengan penghasilan. Nilai idealnya adalah maksimal 35%. Lebih dari 35% adalah angka yang buruk (terlebih jika Anda utang konsumtif).
  3. Rasio Pendapatan Pasif: Rasio yang membandingkan antara pendapatan pasif dengan total pendapatan seseorang. Angka yang ideal adalah minimal 50%. Lebih besar dari 50% berarti lebih baik.
Suatu laporan cash flow memberikan suatu informasi yang saling berkaitan antara penerimaan dan pengeluaran dana kas pada suatu perusahaan saat periode tertentu dengan melakukan pengklasifikasian transaksi berdasarkan kegiatan operasi, pendanaan dan investasi.

Aktivitas Operasi

Aktivitas ini menciptakan pendapatan dan beban yang berasal dari operasi utama pada suatu perusahaan, maka dari itu aktivitas operasi akan mempengaruhi laporan laba rugi yang telah dilaporkan dengan dasar secara akrual. Sedangkan laporan cash flow melaporkan dampaknya terhadap kas. Pengumpulan kas dari langganan akan menciptakan cash inflow terbesar dari operasi. Penerimaan bunga yang berdasarkan pinjaman dan dividen atas investasi saham merupakan cash flow yang kurang penting. Untuk cash outflow dari operasi dapat meliputi pembayaran terhadap karyawan dan pemasok serta pembayaran pajak dan bunga.

Aktivitas Investasi

Aktivitas Investasi dapat meningkatkan dan juga dapat menurunkan jenis aktiva jangka panjang yang telah digunakan pada perusahaan dalam melakukan kegiatannya. Penjualan atau pembelian aktiva tetap seperti gedung, tanah maupun peralatan merupakan kegiatan investasi atau dapat juga berupa penjualan atau pembelian investasi untuk saham maupun obligasi dari perusahaan lainnya. Pada laporan cash flow kegiatan investasi mencakup lebih dari sekedar penjualan dan pembelian aktiva yang telah di golongkan sebagai investasi yang ada pada neraca. Pemberian pinjaman juga merupakan salah satu kegiatan investasi yang disebabkan oleh pinjaman yang dilakukan akan menciptakan piutang kepada seorang peminjam. Untuk pelunasan pinjaman tersebut juga akan dilaporkan sebagai kegiatan investasi yang terjadi pada laporan cash flow

Aktivitas pendanaan

Aktivitas pendanaa yaitu meliputi kegiatan dalam mendapatkan kas dari seorang investor dan seorang kreditor yang akan diperlukan dalam menjalankan serta melanjutkan kegiatan yang ada pada perusahaan. Kegiatan pendanaan yang ada mencakup dari pengeluaran saham, peminjaman uang yang dilakukan dengan cara mengeluarkan wesel bayar serta pinjaman obligasi, penjualan dari saham perbendaharaan selanjutnya merupakan pembayaran terhadap si pemegang saham seperti dividend an pembelian saham yang dilakukan perbendaharaan. Pembayaran terhadap seorang kreditor hanya mencakup pembayaran yang terdiri dari pokok pinjaman dana tersebut.

Tarif daftar listrik 2000

Komitmen Pemerintah untuk tetap memberikan pasokan tenaga listrik bagi masyarakat ditunjukkan dengan tetap menganggarkan subsidi listrik sebesar Rp. 3,9 triliun pada RAPBN 2000. Di lain pihak, krisis ekonomi yang dimulai pada tahun 1997 sangat mempengaruhi kinerja keuangan PT PLN.
Lemahnya kinerja keuangan PT PLN ini antara lain disebabkan oleh penurunan permintaan pelanggan yang mengakibatkan berkurangnya pendapatan, dan kenaikan kurs valuta asing yang mengakibatkan meningkatnya biaya operasi, biaya bunga dan cicilan hutang. Untuk memperbaiki kinerja keuangan PLN ini, telah dilaksanakan program peningkatan efisiensi internal PLN, efisiensi pembelian bahan bakar dan program renegosiasi listrik swasta. Sedangkan untuk memperbaiki sisi pendapatan PLN, selain menyediakan subsidi listrik yang dibatasi oleh kemampuan anggaran Pemerintah, Pemerintah juga mempertimbangkan untuk menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL). Kenaikan Tarif Dasar Listrik ini diperlukan karena biaya produksi listrik per kWh PLN jauh lebih tinggi dari harga jual listrik per kWh. Kenaikan TDL secara sederhana dimaksudkan untuk menjaga agar PLN tetap dapat beroperasi melayani pelanggan dan agar PLN mempunyai dana kas cukup untuk operasional. Dalam melakukan kajian dan perhitungan kenaikan TDL, PLN beserta Pemerintah tidak memasukkan perhitungan pembelian listrik swasta sistem Jawa-Bali dan kewajiban membayar sebagian hutang lainnya.
Usulan tarif listrik baru ini selanjutnya disebut Tarif Dasar Listrik 2000 (TDL 2000), dan diharapkan dapat diberlakukan mulai April 2000. Penentuan waktu pelaksaan TDL 2000 dilakukan dengan pertimbangan bahwa pada bulan April 2000 telah diperoleh angka-angka pasti APBN 2000.
Dasar Hukum TDL 2000
UU Kelistrikan No. 15 Tahun 1985 pasal 16 menyatakan bahwa, Pemerintah mengatur harga jual tenaga listrik (tarif listrik). Selanjutnya, Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1989 pasal 32 menyebutkan bahwa harga jual tenaga listrik ditetapkan oleh Presiden atas usul Menteri. Dalam mengusulkan harga jual listrik ini, Menteri harus memperhatikan : Kepentingan rakyat dan kemampuan dari masyarakat; Kaidah industri dan niaga yang sehat; Biaya produksi; Efesiensi pengusahaan; Kelangkaan sumber energi primer; Skala pengusahaan dan sistem interkoneksi; dan Tersedianya sumber dana untuk investasi. Secara operasional, hal-hal tersebut di atas dapat diterjemahkan dalam beberapa kriteria untuk penetapan tarif listrik yaitu : besar penyesuaian tarif listrik tidak menyebabkan pertumbuhan ekonomi terhambat; tarif listrik yang ditetapkan memberikan signal yang tepat tentang nilai keekonomiannya dan tingkat efisiensi yang ingin dicapai; penetapan golongan tarif tidak menyebabkan adanya distorsi; penetapan tarif dapat memberikan insentif untuk kegiatan produktif dan disinsentif untuk kegiatan konsumtif; dan memperhatikan asas keadilan. Keppres Nomor 67 Tahun 1994 tentang Harga Jual Tenaga Listrik PT PLN, pelanggan dibagi menjadi 24 golongan tarif dengan struktur sebagai berikut: Badan Sosial (5 golongan tarif); Rumah Tangga (4 golongan tarif); Usaha (4 golongan tarif); Hotel (3 golongan tarif); Industri (5 golongan tarif); Gedung/Kantor Pemerintah (2 golongan tarif); dan Penerangan Jalan Umum (1 golongan tarif). Selanjutnya, Keppres Nomor 68 Tahun 1994 tentang Penetapan Harga Jual Tenaga Listrik Yang Disediakan Oleh Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK), ditentukan bahwa harga jual tenaga listrik terdiri dari : Tarif Dasar Listrik (TDL) yang ditetapkan oleh Presiden, dan Tarif Tenaga Listrik Berkala (TTLB) yang ditetapkan oleh Menteri. TTLB bertujuan untuk mempertahankan agar nilai riil TDL tetap sama selang waktu dua penyesuaian TDL. Besarnya TTLB ditetapkan oleh Menteri Pertambangan dan Energi setiap 3 bulan, apabila terjadi perubahan terhadap harga bahan bakar, harga pembelian tenaga listrik oleh PKUK (PLN), tingkat inflasi, dan nilai tukar dollar Amerika terhadap rupiah
Pada tahun 1998, pemerintah menetapkan harga jual listrik baru berdasarkan pada Keppres Nomor 70 Tahun 1998 tentang Harga Jual Tenaga Listrik Yang Disediakan Oleh PLN. TDL 1998 ini lebih sederhana yaitu terdiri dari 17 golongan tarif: Badan Sosial (3 golongan tarif); Rumah Tangga (3 golongan tarif); Bisnis (4 golongan tarif); Industri (4 golongan tarif); dan Gedung/Kantor Pemerintah (3 golongan tarif). Pada pembentukan TDL 1998, Pemerintah berencana untuk melaksanakan tiga tahap kenaikan tarif terhadap TDL 1994: Tahap I naik 20% mulai 5 Mei s/d 31 Juli 1998; Tahap II naik 20% mulai 1 Agustus s/d 31 Oktober 998; Tahap III naik 20% mulai 1 November 1998. Namun demikian, menimbang situasi sosial, politik, dan ekonomi yang masih belum menentu, Pemerintah melakukan perubahan melalui Keppres Nomor 79 Tahun 1998 tentang Perubahan Harga Jual Tenaga Listrik Yang Disediakan PLN, Pemerintah mengubah tingkat kenaikan tarif dari 20% menjadi 18%. Lebih jauh, pada Keppres Nomor 1 Tahun 1999 tentang Penundaan Harga Jual Tenaga Listrik Yang Disediakan PLN, Pemerintah menunda pemberlakuan TDL 1998 kecuali untuk tarif Rumah Tangga Besar (R-3).
TDL 2000 diharapkan dapat diberlakukan mulai April 2000 dan diatur dengan Surat Keputusan Presiden tentang Harga Jual Listrik yang baru.
Mekanisme Usulan Tarif Dasar Listrik 2000
Untuk mencapai kesepakatan menyeluruh dengan berbagai pihak terkait, dalam penyusunan TDL 2000, Pemerintah berkoordinasi dengan PLN, DPR, dan konsumen. Dalam pengembangannya usulan Tarif Dasar Listrik 2000 telah mengalami berbagai perbaikan untuk mengakomodasikan hasil diskusi dan saran yang diberikan oleh pihak-pihak terkait. Pihak Pemerintah dalam hal ini diwakili oleh Departemen Pertambangan dan Energi, khususnya Direktorat Jendral Listrik dan Pengembangan Energi (DJLPE), sedangkan untuk mendapatkan aspirasi masyarakat, dibentuklah sebuah Tim Kecil Kelompok Kerja Partisipasi yang terdiri dari unsur-unsur LSM, lembaga konsumen, perguruan tinggi, PLN, dan DJLPE. Tim Kecil ini kemudian memberikan saran-saran kepada Pemerintah dan PLN, dan juga melaksanakan Rapat Dengar Pendapat Umum dengan DPR Komisi VIII. Secara resmi pihak Pemerintah beserta PLN juga melaksanakan Rapat Kerja dengan Komisi VIII DPR RI, yang hasil dan sarannya antara lain menjadi bahan pertimbangan Pemerintah dalam penyusunan TDL 2000. Tahap-tahap akhir penyusunan TDL dilakukan dengan penerbitan Keputusan Presiden tentang Harga Jual Listrik 2000, dengan petunjuk pelaksanaan diatur dalam Keputusan Menteri. Direksi PLN, dengan disetujui DJLPE, selanjutnya akan mengeluarkan Keputusan Direksi untuk mulai menerapkan Tarif Dasar Listrik 2000 yang baru.
Pola Perhitungan Tarif Listrik
Proses perhitungan TDL 2000, mengacu pada kaidah umum industri kelistrikan, dimulai dengan menghitung Allowable Cost PLN untuk menentukan biaya-biaya yang efisien dan wajar dalam penetapan harga jual listrik kepada pelanggan. Allowable Cost adalah biaya-biaya langsung dan tidak langsung yang disepakati sebagai unsur utama dalam proses produksi penyediaan tenaga listrik yang secara wajar dan adil dibebankan kepada pelanggan. Konsep Allowable Cost ini hanya digunakan untuk perhitungan harga jual tenaga listrik, dan bukan merupakan gambaran dari hasil usaha PLN sebagaimana umumnya tercermin dalam Laporan Laba/Rugi perusahaan. Dengan menggunakan konsep Allowable Cost sebagai dasar perhitungan tarif listrik, maka para pelanggan hanya akan membayar/menanggung biaya-biaya yang berkaitan dengan proses produksi listrik yang dikonsumsinya, mereka tidak harus turut menanggung biaya-biaya PLN yang tidak produktif. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh bahwa allowable cost PLN untuk tahun 2000 sebesar Rp. 27,439 triliun. Disisi lain, harus dihitung juga Revenue Requirement PLN. Revenue Requirement adalah total pendapatan yang dibutuhkan oleh PLN untuk dapat menutupi semua pengeluaran dan agar PLN dapat memperoleh rate of return yang wajar dari investasi usahanya. Namun prioritas TDL 2000 bukanlah agar PLN dapat menutup semua pengeluarannya, apalagi memperoleh keuntungan. Oleh karena itu Revenue Requirement tidak mendasari pertimbangan pembentukan TDL 2000. Revenue Requirment tetap dihitung untuk memperoleh gambaran atau prediksi rugi laba PLN untuk tahun bahasan.
Merujuk kepada uraian kebijakan TDL 2000, pemerintah akan mensubsidi listrik sebesar Rp. 3,9 triliun, untuk alokasi kenaikan tarif listrik menurut golongan pelanggan. Alokasi kenaikan tarif listrik ini diusahakan sedemikan rupa sehingga perbandingan harga jual listrik terhadap allowable cost/unit kWh mendekati satu. Tentu saja dalam menyesuaikan tarif listrik yang baru ini Pemerintah juga mempertimbangkan aspirasi pelanggan kecil.
Faktor-faktor Penyusunan TDL 2000
Penyusunan tarif dasar listrik baru selalu menjadi isu politik dan mengundang polemik dari pemerhati ekonomi dan sosial. Tuntutan masyarakat berpendapatan rendah dan pengusaha kecil untuk memperoleh keadilan dan lingkungan usaha yang kondusif seringkali berbenturan dengan kepentingan PLN untuk mengurangi kerugian dan untuk paling tidak menjaga kelancaran arus kas. Keinginan pemerintah adalah bahwa tarif dasar listrik yang baru ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat dan pelanggan. Untuk itu, tarif dasar listrik yang baru ini disusun dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:  TDL 2000 harus bersifat sederhana dan mudah dikomunikasikan dengan masyarakat;  Penyusunan TDL 2000 harus melibatkan masyarakat luas (LSM, YLKI, dan DPR); Adanya insentif bagi pengguna listrik untuk kegiatan produktif, dan disinsentif bagi pengguna listrik untuk kegiatan yang konsumtif;  Mendorong upaya penghematan pemakaian listrik;   Mendorong usaha kecil (membantu korban PHK, pemberdayaan ekonomi rakyat) melalui tarif yang relatif rendah untuk bisnis kecil dan industri kecil;  Dapat mengakomodasikan kepentingan usaha yang bersifat musiman, pembelian listrik secara grosir, pembelian listrik secara sementara, dan jual beli timbal-balik;  Adanya unsur flexibilitas seperti dimungkinkannya cuti daya bagi industri besar yang sedang mengalami penurunan kapasitas, pengenaan tarif flat untuk industri tertentu (orientasi ekspor);  Mendorong agar PLN lebih meningkatkan pemasaran, maka biaya beban dan biaya pemasangan dalam TDL 2000 diserahkan pada PLN, sedangkan Pemerintah hanya menetapkan patokan harga tertinggi.
Alokasi Kenaikan Tarif pada TDL 2000
Pada TDL 2000, hampir semua golongan tarif diupayakan secara bertahap menutup biaya produksi (mendekati harga pokok produksi atau rasio tarif rata-rata terhadap harga pokok produksi mendekati 1). Karena itu, pada prinsipnya, tarif dinaikkan untuk semua golongan pelanggan, kecuali pada golongan pelanggan :
  • Badan Sosial dengan tegangan sampai dengan 900 VA 
  • Rumah Tangga dengan tegangan 900 VA; 
  • Bisnis dengan tegangan 900 VA; 
  • Industri dengan tegangan 900 VA. 
Usulan kenaikan tarif pada TDL 2000 hanya diberlakukan untuk biaya pemakaian kWh, sedangkan biaya beban tidak dinaikkan (tetap sama dengan TDL 1998). Sementara itu kenaikan biaya pemakaian untuk tiap golongan tarif bervariasi dengan mempertimbangkan : Jenis tegangan yang tersambung (TR, TM, TT), sehingga prinsip keadilan tetap dipertahankan; Kemampuan bayar pelanggan, dimana tarif rata-rata untuk tiap golongan lebih rendah dari kemampuan bayar pelanggan; Penyesuaian sistem blok tarif dan faktor pembebanan yang optimal untuk mendorong effisiensi pemanfaatan listrik; Penyediaan pelayanan yang mempunyai nilai tambah untuk pelanggan seperti cuti daya dan tarif khusus untuk waktu penggunaan tertentu.
Kebijakan TDL 2000
Kebijakan Tarif Dasar Listrik 2000 ditetapkan dengan melakukan kajian-kajian secara mendalam tentang sistem tarif dasar listrik dan memperhatikan masukan-masukan dari DPR pada Rapat Kerja tanggal 5 Januari 2000, serta memperhatikan pula APBN 2000. Kebijakan yang mendasari penyusunan tarif baru ini adalah sebagai berikut:
Kenaikan tarif listrik berkaitan langsung dengan penggunaan listrik, sehingga tidak terdapat kenaikan biaya beban pada semua jenis golongan tarif, kecuali golongan Rumah Tangga R-1 900 VA dan Badan Sosial S-2 900 VA. Untuk golongan tarif yang lain tetap menggunakan TDL 1998 tahap I kecuali golongan Rumah Tangga dan Badan Sosial s/d daya tersambung 900 VA menggunakan TDL 1994 dan golongan R3 menggunakan TDL 1998 tahap III.
Pelanggan kecil (untuk setiap jenis golongan pelanggan dengan daya terpasang sampai dengan 450 VA) untuk segala macam penggunaan tidak mengalami kenaikan tarif listrik. Dengan rincian: Untuk golongan Rumah Tangga dan Badan Sosial menggunakan TDL 1994 dengan TTLB 15% dan untuk golongan Industri dan Bisnis menggunakan TDL 1998 tahap I
Mempertahankan keberadaan golongan tarif badan sosial (S1, S2, dan S3).
Ditambahkannya golongan tarif baru, untuk lebih mencerminkan keadilan dan kewajaran. Golongan pelanggan yang menikmati subsidi, golongan tarifnya akan dipisahkan tersendiri.
Untuk mendorong penggunaan yang lebih hemat oleh pelanggan, maka dibentuk sistem blok-blok tarif sehingga pelanggan yang berhemat akan membayar tarif yang lebih murah.
Mempersiapkan upaya-upaya membangun pengertian dan pemahaman masyarakat tentang TDL 2000, baik melalui media cetak, elektronik, dan pooling, yang akan dilaksanakan pada bulan Maret 2000.
Menentukan tingkat subsidi listrik yang tepat dan wajar dengan Departement teknis lainnya (Keuangan, Perhubungan, dan Perindustrian).
Bahwa dengan tingkat subsidi sebesar Rp. 3,9 triliun (APBN 2000) selama 9 bulan dari April sampai dengan Desember, kenaikan tarif yang direncanakan dengan TDL 2000 ini belum membuat PT PLN (Persero) mampu mencapai Break Even Point. Disadari bahwa kenaikan tarif ini pada dasarnya sekedar agar PLN dapat mempertahankan ‘cash flow’ sehingga tetap mampu beroperasi melakukan penyediaan tenaga listrik.
Kenaikan maksimum pendapatan PLN secara rata-rata tertimbang adalah 35%.
Tarif rata-rata untuk tiap golongan lebih rendah dari kemampuan bayar (affordable tariff)
Pada golongan tarif yang sama, golongan pelanggan dengan daya tersambung yang lebih besar akan mengalami kenaikan tarif sedemikian sehingga rasio tarif terhadap Harga Pokok Produksi (HPP) PLN mendekati satu atau sama dengan satu.
Dalam menghitung HPP, didasarkan atas asumsi-asumsi sebagai berikut: Tidak memasukkan biaya pembelian listrik dari IPP bermasalah;
Kewajiban terhadap pemerintah (cicilan dan bunga) tetap dibayarkan secara penuh; Kas PLN tidak mengalami defisit dan posisi kas pada akhir tahun 2000 diharapkan sejumlah Rp. 1,2 triliun; Komposisi perkiraan penjualan per golongan tarif sesuai dengan Rencana Kerja dan Aanggaran Perusahaan PLN tahun 2000;  Upaya efisiensi PLN perlu ditunjukkan nilainya.
Subtansi pengaturan tarif adalah:  Keppres: Mengatur golongan tarif, struktur dan besaran, hal-hal yang perlu penjabaran lebih lanjut, dan pemberian kewenangan;  Kepmen: kewenangan, penjabaran, dan operasional pengawasan; dan Kepdirjen: Penjabaran operasional, pedoman, dan sistem pengawasan.

Perbandingan Usulan TDL 2000 dengan TDL 1998
Jumlah dan sistem pengolongan pelanggan TDL 2000 tetap sama dengan TDL 1998, demikian juga dengan biaya beban untuk semua golongan pelanggan yang dipertahankan tetap kecuali golongan Rumah Tangga R-1 900 VA dan Badan Sosial S-2 900 VA yang masing-masing mengalami kenaikan 48,81% dan 24,38%. Biaya pemakaian untuk golongan pelanggan dengan daya terpasang 450 VA juga tidak berubah dari TDL 1998, kecuali untuk golongan Pemerintah P-1 450 VA mengalami kenaikan sebesar 20,58%.
Untuk golongan pelanggan Badan Sosial (S-2 diatas 450 VA) dan Rumah Tangga (R-1 diatas 450 VA), biaya pemakaiannya tetap menggunakan sistem blok tarif yang progresif, namun berubah dari 2 blok tarif menjadi 3 blok tarif. Biaya pemakaian untuk blok pertama dan blok kedua pada TDL 2000 menjadi lebih murah, tetapi diterapkan blok baru (blok ketiga, yaitu untuk pemakaian diatas 60 kWh) yang lebih mahal dari 2 blok pertama.
Untuk golongan pelanggan Badan Usaha (B-1, B-2) dan Industri (I-1), sistem tarif dengan 2 blok diskon tetap dipertahankan, namun biaya pemakaian untuk tiap blok mengalami kenaikan. Penerapan sistem tarif dengan blok diskon tetap dipertahankan untuk memberikan insentif bagi kegiatan-kegiatan yang bersifat produktif.
Untuk golongan pelanggan Sosial S-3, Badan Usaha B-4, Industri I-2 dan I-3, dan Pemerintah P-2, sistem tarif dengan diskriminasi waktu pemakaian tetap dipertahankan, yaitu biaya pemakaian pada Waktu Beban Punack (WBP) yang lebih mahal dari biaya pemakaian pada Luar Waktu Beban Puncak (LWBP). Dibanding TDL 1998, biaya WBP dan LWBP pada TDL 2000 mengalami kenaikan.
Sedangkan untuk golongan lainnya, seperti Rumah Tangga R-2 dan R-3, Badan Usaha B-4, Industri I-4, dan Pemerintah (kecuali P-2) sistem tarif yang digunakan tetap flat, namun mengalami kenaikan.
Dampak Kenaikan TDL 2000
Berikut ini adalah hasil analisis dampak perubahan tarif listrik terhadap kegiatan ekonomi berdasarkan model Computable General Equilibrium (CGE), salah satu metodologi yang digunakan untuk analisis dampak secara menyeluruh karena adanya suatu perubahan kebijakan misalnya perubahan tarif. Model CGE ini menggunakan data Input-Output dari BPS.
 Kenaikan tarif listrik PLN mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Setiap 1 % kenaikan tarif listrik PLN menyebabkan GDP riil turun sebesar 0.002 % pada kondisi short run, dan turun sebesar 0.04 % pada kondisi long-run. Untuk setiap 1 % kenaikan tarif listrik akan menyebabkan total investasi riil akan turun sebesar 0.01 % pada kondisi short-run dan turun sebesar 0.03 % pada kondisi long-run. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kenaikan tarif listrik tidak membawa dampak yang cukup signifikan pada pertumbuhan ekonomi. Pada kondisi short-run, kenaikan tarif listrik pengaruhnya relatif kecil (0.004%) terhadap penurunan penggunaan tenaga kerja karena pada kondisi ini penggunaan kapital dan tenaga kerja relatif saling melengkapi (komplemen). Pada kondisi long-run, setiap 1 % kenaikan tarif listrik mengakibatkan penurunan penggunaan tenaga kerja sebesar 0.065 % (angka ini juga relatif kecil dan tidak signifikan). Pada kondisi short-run, analisa komparatif statis dari model CGE menunjukkan bahwa pada sektor industri kenaikan 1 % tarif listrik PLN menyebabkan harga input utama (primary input prices) naik antara 0.001 % s/d 0.06 % dan menurunnya kegiatan produksi yang diindikasikan oleh penurunan penggunaan tenaga kerja antara 0.001 s/d 0.03 % dan penurunan ekspor 0.001 % s/d 0.08 %. Pada sektor komersial (perdagangan, hotel dan restoran), dampak kenaikan 1 % tarif listrik PLN menyebabkan kenaikan harga input utama 0.01 % untuk sub sektor perdagangan dan 0.09 % untuk sub sektor hotel dan restoran. Pada sektor industri, kesimpulan analisa berdasarkan metoda CGE sejalan dengan kesimpulan analisa berdasarkan perhitungan kontribusi kenaikan tarif listrik terhadap kenaikan biaya produksi yaitu sekitar rata-rata 0.066 % untuk setiap 1 % kenaikan tarif listrik. Pada kondisi long-run, kesimpulan yang diperoleh tentang dampak kenaikan tarif listrik tidak jauh berbeda dari kesimpulan yang diperoleh pada kondisi short-run. Dari paparan tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kenaikan tarif listrik dampaknya relatif baik terhadap kinerja sektor industri dan komersial, maupun terhadap kinerja perekonomian secara nasional.
Dengan menggunakan data BPS yaitu Survey Sosial Ekonomi Nasional tahun 1993 dan 1996, Potensi Desa tahun 1990 dan 1993, Data Outside Java Load Characteristics Survey (PT. Hagler Bailly Indonesia), dan dengan menerapkan teknik Tobit Maximum Likelihood diperoleh gambaran bahwa :
  • estimasi elastisitas permintaan harga listrik bertanda negatif dan tidak elastik (besaran dalam nilai absolut lebih kecil dari satu) yang berarti bahwa kenaikan tarif listrik (ceteris paribus) dapat menurunkan jumlah kWh yang dikonsumsi, tetapi dengan besar penurunan lebih kecil dibanding persentase kenaikannya; dan 
  • estimasi kehilangan atau penurunan konsumen surplus yaitu jumlah Rupiah yang harus konsumen tambahkan untuk mengkonsumsi pada tingkat yang sama sebagai akibat dari naiknya harga. Kesimpulannya adalah bahwa untuk kelompok rumah tangga berpendapatan rendah tidak sensitif terhadap perubahan tarif listrik. 
Ketidaksensitifan kelompok ini diduga karena tidak ada lagi ruang gerak untuk melakukan penghematan atau penurunan konsumsi. Oleh karena itu, adanya kenaikan tarif ada kemungkinan akan dirasakan oleh kelompok rumah tangga berpendapatan rendah ini. Kenaikan tarif listrik di atas 60 % menyebabkan tingkat konsumsi (kWh/bulan) dari kelompok berpendapatan rendah turun sampai dibawah 20 kWh/bulan. Jumlah ini dirasa terlalu rendah karena jumlah konsumsi kurang dari 1 kWh/hari.
(Sumber: Laporan Akhir Pengkajian Tekno Ekonomi Ketenagalistrikan Bidang Harga Jual Tenagalistrik, Proyek Induk Sarana Pengujian dan Penunjang Ketenagalistrikan, Direktorat Jenderal Listrik dan Pengembangan Energi, Jakarta)

Cara Membuat Laporan Cash Flow atau Arus Kas

Laporan cash flow atau disebut laporan arus kas adalah laporan keuangan yang isinya tentang penerimaan dan pengeluaran kas dalam sebuah perusahaan pada waktu periode tertentu. Dengan adanya laporan cash flow ini kita akan bisa mengetahui tentang keuangan dari perusahaan apakah sedang untung ataukah rugi.

Untuk bisa membuat laporan cash flow membutuhkan semua catatan tentang penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan dalam periode tertentu. Arus kas yang keluar adalah yang termasuk semua beban-beban yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Di akhir laporan cash flow, manajemen bisa menilai posisi keuangan perusahaan, apakah ada keuntungan atau minus.

 Elemen Cash Flow

Sebelum Anda membuat laporan cash flow, Anda perlu mengetahui tiga elemen penting dalam cash flow, yaitu:

a. Arus kas dari kegiatan bisnis (operating activities)

Arus kas yang pertama ini adalah arus kas yang berasal dari kegiatan bisnis baik pemasukan atau pengeluaran. Contohnya: penerima dari konsumen, membayar gaji bulanan, bayar listrik, dan lain sebagainya.

b. Arus kas dari kegiatan investasi (investing activity)

Arus kas ini berasal dari kegiatan investasi perusahaan baik itu pemasukan atau pengeluaran. Kegiatan yang masuk ke dalam investasi ini adalah aktivitas penjualan dan pembelian dari aktiva perusahaan dan kegiatan yang ada hubungannya dengan piutang perusahaan. Contohnya: pembelian kendaraan baru.

c. Arus kas dari kegiatan pendanaan (financing activities)

Arus kas yang ketiga ini adalah arus kas yang asalnya dari pendanaan yang didapatkan oleh perusahaan. Contohnya: emisi saham, penjualan obligasi, dan lain sebagainya.

Metode Cash Flow

Dalam penyusunan cash flow, ada dua metode yang digunakan yaitu metode langsung (Direct Cash Flow) dan metode tidak langsung (Indirect Cash Flow). Tetapi pada kesempatan hari ini kita akan membahas bagaimana cara membuat laporan cash flow dengan metode tidak langsung dengan disertai contohnya. Langkah yang pertama dalam membuat cash flow adalah memastikan bahwa sudah memiliki dua sumber data yang akan digunakan, yaitu:
- Laporan rugi laba periode berjalan.
- Neraca periode yang sedang berjalan dengan neraca periode tahun sebelumnya.

a. Langkah 1: Data Laporan Rugi Laba Tahun 2017

Perhatikan contoh laporan rugi laba tahun 2017 berikut dari PT Piatto Indonesia


PT. Piatto Indonesia
Laporan Laba-Rugi
01/01/2017 - 31/12/2017
Penjualan
75,000,000
Harga Pokok Penjualan
36,000,000
Laba Kotor
39,000,000


Beban Pemasaran
6,000,000
Beban Administrasi dan Umum
8,000,000
Beban Listrik Air telepon
5,200,000
Beban Penyusutan Kendaraan
400,000
Beban Penyusutan gedung
400,000
Total Beban Usaha
20,000,000
Laba Periode ini
19,000,000

Kita bisa melihat bahwa pada tahun 2017 PT Piatto Indonesia mendapatkan keuntungan atau laba senilai Rp19.000.000.


b. Langkah 2: Mengumpulkan Data Neraca Tahun 2016 dan 2017

Laporan Neraca Tahun 2016

PT Piatto Indonesia
Neraca
Tahun 2016
AKTIVA

KEWAJIBAN DAN EKUITAS

AKTIVA LANCAR

KEWAJIBAN

Kas
8,000,000
Utang Dagang
30,000,000
Piutang Dagang
16,000,000
Utang Sewa
20,000,000
Cadangan Kerugian Piutang
(800,000)
Utang Bank
60,000,000
Perlengkapan
3,000,000
TOTAL UTANG
110,000,000
Persediaan Barang
10,000,000

AKTIVA TETAP

EKUITAS

Kendaraan
20,000,000
Modal
11,000,000
Akum. Penyusutan Kendaraan
(1,600,000)
Prive
0
Gedung
40,000,000
Laba/Rugi Periode ini
0
Akum. Penyusutan Gedung
(3,600,000)
TOTAL EKUITAS
11,000,000
Tanah
30,000,000
Total AKTIVA
121,000,000
TOTAL KEWAJIBAN & EKUITAS
121,000,000


Laporan Neraca Tahun 2017

PT Piatto Indonesia
Neraca
Tahun 2017
AKTIVA
KEWAJIBAN DAN EKUITAS
AKTIVA LANCAR
KEWAJIBAN
Kas
4,000,000
Utang Dagang
20,000,000
Piutang Dagang
20,000,000
Utang Sewa
10,000,000
Cadangan Kerugian Piutang
(1,000,000)
Utang Bank
40,000,000
Perlengkapan
2,000,000
TOTAL UTANG
70,000,000
Persediaan Barang
14,000,000

AKTIVA TETAP
EKUITAS
Kendaraan
26,000,000
Modal
50,000,000
Akum. Penyusutan Kendaraan
(2,000,000)
Prive
(10,000,000)
Gedung
40,000,000
Laba/Rugi Periode ini
19,000,000
Akum. Penyusutan Gedung
(4,000,000)
TOTAL EKUITAS
59,000,000
Tanah
30,000,000
Total AKTIVA
129,000,000
TOTAL KEWAJIBAN & EKUITAS
129,000,000






c. Langkah 3: Membandingkan Kedua Neraca


PT Piatto Indonesia
Neraca
Tahun 2016 & 2017
Tahun
2017
2016
Net Change
AKTIVA
AKTIVA LANCAR
Kas
4,000,000
8,000,000
(4,000,000)
Piutang Dagang
20,000,000
16,000,000
4,000,000
Cadangan Kerugian Piutang
(1,000,000)
(800,000)
(200,000)
Perlengkapan
2,000,000
3,000,000
(1,000,000)
Persediaan Barang
14,000,000
10,000,000
4,000,000

AKTIVA TETAP



Kendaraan
26,000,000
20,000,000
6,000,000
Akum. Penyusutan Kendaraan
(2,000,000)
(1,600,000)
(400,000)
Gedung
40,000,000
40,000,000
0
Akum. Penyusutan Gedung
(4,000,000)
(3,600,000)
(400,000)
Tanah
30,000,000
30,000,000
0
Total AKTIVA
129,000,000
121,000,000
8,000,000

KEWAJIBAN DAN EKUITAS
KEWAJIBAN
Utang Dagang
20,000,000
30,000,000
(10,000,000)
Utang Sewa
10,000,000
20,000,000
(10,000,000)
Utang Bank
40,000,000
60,000,000
(20,000,000)
TOTAL UTANG
70,000,000
110,000,000
(40,000,000)

EKUITAS
Modal
50,000,000
11,000,000
39,000,000
Prive
(10,000,000)
0
(10,000,000)
Laba/Rugi Periode ini
19,000,000
0
19,000,000
TOTAL EKUITAS
59,000,000
11,000,000
48,000,000
TOTAL KEWAJIBAN & EKUITAS
129,000,000
121,000,000
8,000,000

Pada kolom Net Change adalah selisih yang dihasilkan antara neraca tahun 2017 dengan neraca 2016.

- Kelompok Aktiva
Jika pada kolom Net Change bernilai positif (tidak minus) maka terjadi pengeluaran kas dan jika minus, maka terjadi penerimaan kas.
- Kelompok Pasiva
Jika pada kolom Net Change bernilai positif (tidak minus) maka terjadi penerimaan kas dan jika minus, maka terjadi pengeluaran kas.

d. Langkah 4: Melakukan Penyusunan Laporan Cash Flow

Berdasarkan dari laporan rugi laba serta perbandingan antara neraca tahun 2016 dengan 2017, maka kita sudah bisa untuk menyusun laporan cash flow.
- Arus Kas dari Kegiatan Bisnis (Operating Activities)
Berdasarkan data dari laba rugi tahun 2017 bahwa perusahaan mendapatkan keuntungan sebesar Rp19.000.000.
Berikut adalah contoh perhitungan arus kas dari kegiatan operasional bisnis.
Laba/Rugi Periode ini
19,000,000
Kenaikan Piutang Dagang
(4,000,000)
Kenaikan Cadangan Kerugian Piutang
200,000
Kenaikan Persediaan Barang
(4,000,000)
Penurunan Perlengkapan
1,000,000
Beban Penyusutan Kendaraan & Gedung
800,000
Penurunan Utang Dagang
(10,000,000)
Penurunan Utang sewa
(10,000,000)
Total
(7,000,000)

Pada contoh yang sedang dibahas didapati nilai pengurangan sebesar Rp7.000.000



- Arus Kas dari Kegiatan Investasi (Investing Activity)
Arus kas bertambah karena adanya penurunan nilai aset tetap, sedangkan arus kas berkurang karena adanya kenaikan aset tetap. Pada contoh soal di atas didapati hasilnya adalah arus kas berkurang sebesar Rp6.000.000.
- Arus Kas dari Kegiatan Pendanaan (Financing Activities)
Untuk mendapatkan nilai Financing Activities dapat dilakukan dengan cara memindahkan angka pada kolom Net Change pada neraca tahun 2016 dan 2017 dari bagian kelompok Kewajiban Jangka Panjang dan Ekuitas. Untuk yang nilainya positif tetap biarkan saja dan yang nilainya negatif tetap biarkan negatif.

Penurunan Utang Bank
(20,000,000)
Kenaikan Modal
39,000,000
Penambahan Prive
(10,000,000)
Total
9,000,000

Kemudian jumlahkan semua nilainya, pada contoh di atas diperoleh penambahan kas senilai Rp9.000.000
- Total Kegiatan Kas (Total Cash Activities)
Untuk bisa mendapatkan nilai total kegiatan kas menggunakan perhitungan [Operating Activities + Investing Activities + Financing Activities], pada contoh di atas diperoleh hasil penurunan kas senilai Rp4.000.000.
 - Saldo Awal Kas (Cash Begining Balance)
Saldo awal kas bisa diambil dari neraca pada tahun sebelumnya, pada contoh tersebut nilainya adalah Rp8.000.000.
- Saldo Kas Seharusnya (Expected Cash Ending Balance)
Saldo kas seharusnya bisa diperoleh dengan penjumlahan total aktivitas kas dengan saldo awal kas pada Neraca Tahun 2016, dari contoh tersebut didapatkan perhitungan Rp8.000.000 (kas neraca 2016) dikurang Rp4.000.000 (penurunan kas), sehingga didapatkan hasil senilai Rp4.000.000.
- Saldo Akhir Kenyataan (Actual Cash Ending Balance)
Saldo akhir kenyataan bisa didapatkan dari Neraca yang sedang berjalan, yaitu Neraca Tahun 2017. Pada contoh tersebut nilainya adalah Rp4.000.000.
- Selisih (Variance)
Jika perhitungan antara saldo kas yang seharusnya dikurangi dengan saldo akhir kenyataan adalah hasilnya 0, maka laporan cash flow sudah selesai.




PT Piatto Indonesia
Laporan Arus Kas
Tahun 2017
A
Arus Kas dari Kegiatan Operasional
(7,000,000)
B
Arus Kas dari Kegiatan Investasi
(6,000,000)
C
Arus Kas dari Kegiatan Pendanaan
9,000,000
D
Total Aktivitas Kas (A+B+C)
(4,000,000)
E
Saldo Awal Kas (Dari Neraca 2016)
8,000,000
F
Saldo Kas Seharusnya (E+D)
4,000,000
G
Saldo Akhir Kenyataan (Dari Neraca 2017)
4,000,000
H
Selisih (F-G)
0

Demikianlah pembahasan mengenai cara membuat laporan cash flow dengan metode tidak langsung beserta contohnya. Untuk membantu dalam pembuatan laporan cash flow, Anda dapat menggunakan Jurnal. Dengan Jurnal, Anda tidak perlu lagi repot mengikuti langkah di atas untuk mendapatkan laporan arus kas atau cash flow. Pada Jurnal, Anda juga sudah dapat memilih metode langsung ataupun tidak langsung dalam pembuatan laporan arus kas.






https://www.jurnal.id/en/blog/2018/cara-membuat-laporan-cash-flow-dengan-metode-tidak-langsung