Perkembangan Penduduk Indonesia
A. Landasan Perkembangan Penduduk
Indonesia
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan
penduduk yang dipengaruhi oleh faktor kelahiran, kematian, dan perpindahan
penduduk (migrasi). Pertumbuhan penduduk terdiri atas dua macam, yaitu sebagai
berikut:
1.
Pertumbuhan penduduk alami, yaitu pertumbuhan penduduk yang dipengaruhi oleh
kelahiran dan kematian.
2.
Pertumbuhan penduduk total, yaitu pertumbuhan penduduk yang dipengaruhi oleh
kelahiran, kematian, imigrasi, dan emigrasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
penduduk terdiri dari 2 faktor yaitu kelahiran dan kematian. Berikut merupakan
faktor yang memepengaruhi pertumbuhan penduduk
1.
Kelahiran (natalitas/fertilitas): Kelahiran adalah kemampuan seorang wanita
melahirkan yang tercermin dalam jumlah bayi yang dilahirkan. Angka kelahiran
ialah rata-rata banyaknya bayi yang lahir dari tiap 1.000 orang penduduk dalam
satu tahun. Angka kelahiran dibagi menjadi dua, yaitu:
a.
Angka kelahiran kasar: Angka kelahiran kasar adalah jumlah tiap kelahiran 1.000
orang penduduk pada suatu daerah dalam waktu satu tahun.
b.
Angka kelahiran khusus: Angka kelahiran khusus adalah angka yang menunjukkan
banyaknya kelahiran hidup dari 1.000 wanita usia tertentu dalam waktu satu
tahun. Yang dimaksud usia tertentu, misalnya: pada usia 20-24 tahun, 25-29
tahun, 30-39 tahun, dan seterusnya.
2.
Kematian (mortalitas): Angka kematian adalah jumlah kematian setiap seribu
penduduk setiap tahun.
a.
Angka kematian kasar: Angka kematian kasar adalah angka yang menunjukkan jumlah
kematian setiap 1.000 penduduk per tahun. Berikut ini penggolongan kematian
kasar, yaitu:
1)
Angka kematian rendah, jika angka kematian kurang dari 10.
2)
Angka kematian sedang, jika angka kematian antara 10 – 20.
3)
Angka kematian tinggi, jika angka kematian lebih dari 20.
b.
Angka kematian khusus : Angka kematian khusus adalah rata-rata banyaknya orang
yang meninggal dari tiap 1.000 orang penduduk per tahun.
Tingkat
pertumbuhan populasi Indonesia antara tahun 2000 dan 2010 adalah sekitar 1.49
persen per tahun. Pertumbuhan tertinggi terjadi di propinsi Papua (5.46
persen), sementara pertumbuhan populasi terendah terjadi di propinsi Jawa
Tengah (0.37 persen). Program Keluarga Berencana (KB) dikoordinasi oleh
institusi pemerintah, yaitu Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN). Program KB dimulai pada tahun 1968 semasa pemerintahan presiden
Suharto dan sampai saat ini masih diteruskan oleh presiden2 penerusnya. Program
ini adalah strategi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia karena
pertumbuhan populasi yang rendah akan menyebabkan tingkat PDB per kapita yang
lebih tinggi, yang juga akan meningkatkan pendapatan, tabungan, investasi serta
menurunkan tingkat kemiskinan.
Menurut
proyeksi yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan menilik
populasi absolut Indonesia di masa depan, maka negeri ini akan memiliki
penduduk lebih dari 270 juta jiwa pada tahun 2025, lebih dari 285 juta jiwa
pada tahun 2035 dan 290 juta jiwa pada tahun 2045. Baru setelah 2050 populasi
Indonesia akan berkurang. Menurut proyeksi PBB pada tahun 2050 dua pertiga
populasi Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan. Sejak 40 tahun yang lalu
Indonesia sedang mengalami sebuah proses urbanisasi yang pesat makanya sekarang
sekitar separuh dari jumlah total penduduk Indonesia tinggal di wilayah
perkotaan. Proses ini menunjukkan perkembangan positif bagi perekenomian
Indonesia karena urbanisasi dan industrialisasi akan membuat pertumbuhan
ekonomi lebih maju dan menjadikan Indonesia negeri dengan tingkat pendapatan
menengah ke atas.
Lingkungan pemukiman adalah tempat atau
dimana semua warga menempati dan menjadikan sebagai tempat tinggal,tempat usaha
atau sebagai sumber usaha dan sebagainya. Lingkungan pemukinman akan menjadi
baik atau lebih buruk tergantung pada pengelolaan yang menempati wilayah
tersebut.
Perkembangan suatu kota yang semakin pesat
dapat memacu juga kepadatan suatu daerah. Hal ini disebabkan karena beragamnya
kebutuhan hidup masyarakat perkotaan dan adanya upaya untuk memberi kemudahan
dalam memenuhi kebutuhan manusia tersebut. Pertumbuhan penduduk yang semakin
besar sebagai akibat dari perkembangan pada aktivitas kota dan proses
industrialisasi terutama di beberapa kota di Indonesia yang mengakibatkan
banyak berkembangnya kawasan komersial. Berkembangnya suatu kota pasti akan
diikuti oleh pertambahan jumlah penduduk. Salah satu permasalahan yang muncul
seiring dengan perkembangan suatu kota adalah masalah perumahan dan pemukiman.
Menurut Bintarto (Pos Kota edisi Juni, 2012) pemukiman menempati areal paling
luas dalam pemanfaatan ruang, mengalami perkembangan yang selaras dengan
perkembangan penduduk dan mempunyai pola-pola tertentu yang menciptakan bentuk
dan struktur suatu kota yang berbeda dengan kota lainnya. Perkembangan
permukiman pada bagian-bagian kota tidaklah sama, tergantung pada karakteristik
kehidupan musyarakat, potensial sumber daya kesempatan kerja yang tersedia,
kondisi fisik alami serta fasilitas kota yang terutama berkaitan dengan
infrastruktur. Kemajuan dan perkembangan suatu kota tidak terlepas dari
pembentuk kota. Pembentuk tersebut meliputi sosial budaya, ekonomi, pemukiman,
kependudukan, sarana dan prasarana serta transportasi.
Jika adanya peningkatan jumlah penduduk akan
menyebabkan terjadinya peningkatan kegiatan sosial-ekonomi, juga peningkatan
kebutuhan pelayanan, dan akan terjadi peningkatan prasarana. Maka dengan
semakin banyaknya jumlah penduduk yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah
yang sama dan melakukan kegiatan yang sama pula akan menimbulkan suatu masalah.
Keadaan ini sangat kelihatan dari kondisi kepadatan pemukiman tersebut dimana
tampak terjadi meningkatnya ketersediaan infrastruktur.
Pertambahan penduduk hanya pada satu kota
jika tidak diatasi akan mengakibatkan menumpuknya jumlah penduduk yang tidak
merata. Hal tersebut akan berhubungan dengan lingkungan pemukiman, karena jika
terjadinya penumpukan penduduk hanya pada satu kota saja ini akan menimbulnya
jumlah penduduk yang semakin padat dan terutama pada tempat tinggal pemukiman.
Pemukiman yang ditempati oleh banyaknya penduduk pada satu kota atau daerah
tertentu ini akan menimbulkan masalah terutama pada lingkungan. Maka
Peran infrastruktur dalam pengembangan perumahan dan permukiman dinilai sangat
penting, karena infrastruktur merupakan syarat mutlak bagi terciptanya
lingkungan permukiman yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan. Persoalan
infrastruktur tersebut timbul karena bertambahnya penduduk pemukiman,
peningkatan pendapatan, peningkatan pemilikan kendaraan dan dibangunnya
fasilitas di kawasan komersial di sekitar kota. Dampak yang sangat pasti
terjadi adalah meningkatnya kebutuhan infrastruktur, yang kemudian karena
kejenuhannya menimbulkan tidak optimalnya pelayanan sarana dan prasarana. Untuk
menciptakan suatu lingkungan pemukiman yang baik maka diperlukan infratruktur
pemukiman dan fasilitas umum pemukiman. Adapun yang dimaksud dengan
infrastruktur pemukiman ialah jalan lokal, saluran drainase, pengadaan air
bersih, pembuangan air kotor, persampahan, listrik dan telepon.
Suatu wilayah dengan pertambahan penduduk
yang pesat dapat menyebabkan masalah- masalah pendidikan, pengangguran,
kesenjangan sosial dan masalah-masalah lainnya. Dengan jumlah penduduk yang
besar maka fasilitas- fasilitas sosial, pendidikan dan pekerjaan juga ikut
meningkat. Jika penduduk di suatu kota yang padat tidak terpenuhi fasilitas
pendidikannya maka akan menyebabkan penurunan tingkat pendidikan wilayah
tersebut. Tingkat pendidikan yang rendah dapat menyebabkan pengangguran
sehingga dampak pada tingkat perekonomian juga memburuk. Jika masalah ini terus
diabaikan maka kemerosotan negara tidak dapat dihindari.
Tingkat pendidikan yang buruk dapat
menyebabkan anak-anak mengalami depresi. Hal ini memicu terjadinya
pekerjaan-pekerjaan yang tidak layak dilakukan oleh anak-anak di bawah umur.
Bahkan dampak lain dari masalah ini bisa menyebabkan tingkat tindakan kriminal
yang dilakukan anak-anak meningkat. Generasi muda dan anak-anak yang cerdas
adalah kunci kemajuan suatu negara. Jika masa kanak-kanak mereka diisi dengan
hal-hal negatif maka jalan menuju kesuksesan bangsa akan semakin jauh.
Wilayah kawasan kumuh menurut Bank Dunia
(1999) merupakan bagian yang terabaikan dalam pembangunan perkotaan. Hal ini
ditunjukkan dengan kondisi sosial demografis di kawasan kumuh seperti kepadatan
penduduk yang tinggi, kondisi lingkungan yang tidak layak huni dan tidak
memenuhi syarat serta minimnya fasilitas pendidikan, kesehatan dan sarana
prasarana sosial budaya. Tumbuhnya kawasan kumuh terjadi karena tidak
terbendungnya arus urbanisasi. Di saat banjir, lingkungan yang kumuh sering
terjangkit penyakit seperti: malaria, demam berdarah, gatal –gatal, penyakit
kulit, dan sebagainya. Di karenakan pada saat banjir, selokan – selokan yang
ada di permukiman kumuh tersumbat oleh sampah yang mereka buang sendiri dan
tata ruang kota yang kurang baik.
Selain itu banyaknya wilayah hijau di
perkotaan sekarang beralih fungsi sebagai bangunan – bangunan pencakar langit,
mal – mal yang banyak. Sehingga daya serap air di wilayah perkotaan sangat
sedikit. Dengan sedikitnya air yang di serap di wilayah tersebut maka
terjadilah genangan air yang semakin lama semakin membesar dengan terjadinya
hujan. Dengan terjadinya bencana banjir, maka datang lagi bencana selanjutnya
yaitu penyakit yang menjadi wabah paling ampuh saat banjir. Banyaknya wabah
penyakit yang di jangkit oleh masyarakat saat banjir, itu semua sangat
menggangu kesehatan masyarakat. Karena air banjir membawa berbagai macam
penyakit yang sebagian besar di sebarkan oleh tikus dan nyamuk. Oleh sebab itu,
Langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan untuk penataan lingkungan
permukiman kumuh adalah:
1.
Lebih mengefektifkan penertiban administrasi kependudukan bekerja sama dengan
perangkat desa yang mewilayahi permukiman kumuh di Kota Denpasar.
2.
Penataan kembali lingkungan dengan penyediaan kamar mandi dan jamban umum,
program sanimas dan pengelolaan sampah swadaya di permukiman kumuh.
3.
Peningkatan perilaku hidup sehat masyarakat
4.
Sosialisasi kebijakan pemerintah kota terkait dengan program penataan kembali
permukiman kumuh perlu lebih digalakkan dengan melibatkan kelompok masyarakat
di permukiman kumuh.
5.
Perlu dilakukan studi lanjutan untuk menggali informasi yang lebih luas terkait
dengan penataan kembali lingkungan permukiman kumuh.
Kekurangan gizi dan angka kematian anak
meningkat di sejumlah kawasan yang paling buruk di Asia dan Pasifik kendati ada
usaha internasional untuk menurunkan keadaan itu, kata sebuah laporan badan
kesehatan PBB hari Senin. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa
sasaran kesehatan yang ditetapkan berdasarkan delapan Tujuan Pembangunan
Milenium PBB tahun 2000 tidak akan tercapai pada tahun 2015 berdasarkan
kecnderungan sekarang. “Sejauh ini bukti menunjukkan bahwa kendati ada beberapa
kemajuan, di banyak negara, khususnya yang paling miskin, tetap ketinggalan
dalam kesehatan,” kata Dirjen WHO Lee Jong Wook dalam laporan itu. Kendati
tujuan pertama mengurangi kelaparan, situasinya bahkan memburuk sementara
negara-negara miskin berjuang mengatatasi masalah pasokan pangan yang kronis,
kata data laporan itu.
Antara tahun 1990 dan 2002– data yang paling akhir– jumlah orang yang
kekurangan makanan meningkat 34 juta di indonesia dan 15 juta di Surabaya dan
47 juta orang di Asia timur, kata laporan tersebut. Proporsi anak berusia lima
tahun ke bawah yang berat badannya terlalu ringan di Surabaya, tenggara dan
timur meningkat enam sampai sembilan persen antara tahun 1990 dan 2003,
sementara hampir tidak berubah (32 persen). Lebih dari separuh anak-anak di
Asia selatan kekurangan gizi, sementara rata-rata di negara-negara berkembang tahun
2003 tetap sepertiga. “Meningkatnya pertambahan penduduk dan produktivitas
pertanian yang rendah merupakan alasan utama kekurangan pangan di
kawasan-kawasan ini,” kata laporan itu. Kelaparan cenderung terpusat di
daerah-daerah pedesaan di kalangan penduduk yang tidak memilki tanah atau para
petani yang memiliki kapling yang sempit untuk memenunhi kebutuhan hidup
mereka,” tambah dia.
Secara sosiologis, kebodohan, kemiskinan dan
keterbelakangan ditentukan oleh tiga faktor; yakni kesadaran manusia, struktur
yang menindas, dan fungsi struktur yang tidak berjalan semestinya. Dalam
konteks kesadaran, kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan biasanya merujuk
pada kesadaran fatalistik dan menyerah pada “takdir”. Suatu kondisi diyakini
sebagai pemberian Tuhan yang harus diterima, dan perubahan atas nasib yang
dialaminya hanya mungkin dilakukan oleh Tuhan. Tak ada usaha manusia yang bisa
mengubah nasib seseorang, jika Tuhan tak berkehendak. Kesadaran fatalistik
bersifat pasif dan pasrah serta mengabaikan kerja keras.
Kesadaran ini tampaknya dimiliki sebagian
besar masyarakat Indonesia, sehingga kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan
diterima sebagai takdir yang tak bisa ditolak. Bahkan, penerimaan terhadap
kondisi itu merupakan bagian dari ketaatan beragama dan diyakini sebagai
kehendak Tuhan.
Kesadaran keberagamaan yang fatalistik itu
perlu dikaji ulang. Pasalnya, sulit dipahami jika manusia tidak diberi
kebebasan untuk berpikir dan bekerja keras. Kesadaran fatalistik akan mengurung
kebebasan manusia sebagai khalifah di bumi. Sementara sebagai khalifah, manusia
dituntut untuk menerapkan ajaran dalam konteks dunia dan akhirat. Oleh karena
itu, kemiskinan dan kebodohan, wajib diubah. Bahkan, kewajiban itu adalah
bagian penting dari kesadaran manusia.
Faktor penyebab lain yang menyebabkan
kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan karena otoritas struktural yang
dominan. Kemiskinan, misalnya, bisa disebabkan oleh ulah segelintir orang di
struktur pemerintahan yang berlaku tidak adil. Kemiskinan yang diakibatkan oleh
problem struktural disebut “kemiskinan struktural”. Yaitu kemiskinan yang
sengaja diciptakan oleh kelompok struktural untuk tujuan-tujuan politik
tertentu. Persoalan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan juga disebabkan
karena tidak berfungsinya sistem yang ada. Sebab orang-orang yang berada dalam
sistem tidak memiliki kemampuan sesuai dengan posisinya. Akibatnya sistem
berjalan tersendat-sendat, bahkan kacau. Kesalahan menempatkan orang tidak
sesuai dengan kompetensinya (one man in the wrong place) bisa mengakibatkan
kondisi bangsa ini menjadi fatal.
Kondisi masyarakat Indonesia yang masih
berkubang dalam kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan, jelas berseberangan
dengan prinsip-prinsip fitrah manusia. Fitrah manusia adalah hidup layak,
berpengetahuan, dan bukan miskin atau bodoh. Untuk mengentaskan masyarakat
Indonesia dari kubangan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan, pemerintah
perlu mengambil kebijakan strategis. Kebijakan strategis tersebut membutuhkan
suatu jalur yang dipandang paling efektif. Dalam konteks inilah penulis
berpendapat bahwa pendidikan merupakan satu-satunya jalur paling efektif untuk
mengentaskan seluruh problem sosial di Indonesia.
Meskipun persoalan kemiskinan bisa saja
disebabkan karena struktur dan fungsi struktur yang tidak berjalan, akan tetapi
itu semua mengisyaratkan pada faktor manusianya. Struktur jelas buatan manusia
dan dijalankan oleh manusia pula. Jadi, persoalan kemiskinan yang bertumpu pada
struktur dan fungsi sistem jelas mengindikasikan problem kesadaran manusianya.
Dengan demikian, agenda terbesar pendidikan nasional adalah bagaimana merombak
kesadaran masyarakat Indonesia agar menjadi kritis.
Kemiskinan dan Keterbelakangan adalah keadaan
dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan ,
pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat
disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses
terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global.
Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara
yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi
memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan,dll.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara.
Pemahaman utamanya mencakup:
a.
Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari,
sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini
dipsdfgeggahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
b.
Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial,
ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal
ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan
dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan
tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
c.
Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna
"memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik
dan ekonomi di seluruh dunia.
Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua
kategori , yaitu Kemiskinan absolut dan Kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut
mengacu pada satu set standard yang konsisten , tidak terpengaruh oleh waktu
dan tempat / negara. Sebuah contoh dari pengukuran absolut adalah persentase
dari populasi yang makan dibawah jumlah yg cukup menopang kebutuhan tubuh
manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki laki dewasa).
Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolut
sebagai hidup dg pendapatan dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan menengah untuk
pendapatan dibawah $2 per hari, dg batasan ini maka diperkiraan pada 2001 1,1
miliar orang didunia mengonsumsi kurang dari $1/hari dan 2,7 miliar orang
didunia mengonsumsi kurang dari $2/hari."[1] Proporsi penduduk negara
berkembang yang hidup dalam Kemiskinan ekstrem telah turun dari 28% pada 1990
menjadi 21% pada 2001.[1] Melihat pada periode 1981-2001, persentase dari
penduduk dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan $1 dolar/hari telah
berkurang separuh. Tetapi , nilai dari $1 juga mengalami penurunan dalam kurun
waktu tersebut.
Meskipun kemiskinan yang paling parah
terdapat di dunia bekembang, ada bukti tentang kehadiran kemiskinan di setiap
region. Di negara-negara maju, kondisi ini menghadirkan kaum tuna wisma yang
berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran kota dan ghetto yang miskin.
Kemiskinan dapat dilihat sebagai kondisi kolektif masyarakat miskin, atau
kelompok orang-orang miskin, dan dalam pengertian ini keseluruhan negara
kadang-kadang dianggap miskin. Untuk menghindari stigma ini, negara-negara ini
biasanya disebut sebagai negara berkembang.
Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
a.
penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat
dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin;
b.
penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga;
c.
penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan
kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;
d.
penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain,
termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
e.
penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil
dari struktur sosial.
Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran
adalah sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negara terkaya
per kapita di dunia) misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan
sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan
publik, namun masih gagal melewati atas garis kemiskinan.
Tanggapan utama terhadap kemiskinan adalah:
a.
Bantuan kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini
telah menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman pertengahan.
b.
Bantuan terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk
mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan, termasuk hukuman,
pendidikan, kerja sosial, pencarian kerja, dan lain-lain.
c.
Persiapan bagi yang lemah. Daripada memberikan bantuan secara langsung kepada
orang miskin, banyak negara sejahtera menyediakan bantuan untuk orang yang
dikategorikan sebagai orang yang lebih mungkin miskin, seperti orang tua atau
orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat orang miskin, seperti
kebutuhan akan perawatan kesehatan.
Sumber
https://agungborn91.wordpress.com/2010/11/05/dampak-pertumbuhan-penduduk-terhadap-pendidikan-anak-anak/.
http://www.indonesia-investments.com/id/budaya/demografi/item67.
https://mfahrulrozi14.wordpress.com/2015/11/19/perkembangan-penduduk-indonesia/
http://hannitacambridge.blogspot.com/2011/11/perkembangan-penduduk-
indonesia.html
https://alf14n08.wordpress.com/2011/11/12/perkembangan-penduduk-indonesia/
https://agungborn91.wordpress.com/2010/11/05/dampak-pertumbuhan-penduduk-terhadap-pendidikan-anak-anak/.
http://www.indonesia-investments.com/id/budaya/demografi/item67.
https://mfahrulrozi14.wordpress.com/2015/11/19/perkembangan-penduduk-indonesia/
http://hannitacambridge.blogspot.com/2011/11/perkembangan-penduduk-
indonesia.html
https://alf14n08.wordpress.com/2011/11/12/perkembangan-penduduk-indonesia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar