TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN
1) pengertian Teknologi
Para
sarjana telah banyak memberikan pengertian tentang teknologi, di mana
masing-masing berbeda dalam sudut pandangannya. Menurut Walter Buckingham yang
di maksud dengan teknologi adalah ilmu pengetahuan yang diterapkan ke dalam
seni industri serta oleh karenanya mencakup alat-alat yang memungkinkan
terlaksananya efisiensi tenaga kerja menurut keragaman kemampuan.
Dari
pengertian teknologi di atas dapat kecenderungan bahwa teknologi dianggap sebagai
penerapan ilmu pengetahuan, dalam pengertian bahwa perapan itu menuju
keperbuatan atau perwujudan sesuatu. Kecenderungan ini pun mempunyai suatu
akibat di mana kalau teknologi dianggap sebagai penerapan ilmu pengetahuan,
dalam perwujud maka dengan sendirinya setiap jenis teknologi atau bagian ilmu
pengetahuan dapat diteknologikan. Dengan demikian teknologi tidak dapat ada
tanpa berpasangan dengan ilmu pengetahuan, dan pengetahuan tentang teknologi
perlu disertai oleh pengetahuan akan ilmu pengetahuan yang menjadi pasangannya.
Macam-macam Teknologi
Ada tiga macam teknologi yang sering
dikemukakan para ahli, yaitu :
a.
Teknologi modern
Jenis teknologi modern ini mempunyai
cirri-ciri sebagai berikut :
-
Padat modal
-
Mekanis elektris
-
Menggunakan bahan import
-
Berdasarkan penelitian mutakhir dan
lain-lain
b.
Teknologi madya
Jenis teknologi madya ini mempunyai
cirri-ciri sebagai berikut :
-
Padat karya
-
Dapat dikerjakan oleh ketrampilan
setempat
-
Menggunakan alat setempat
-
Berdasarkan suatu penelitian
c.
Teknologi tradisional
-
Teknologi ini mempunyai cirri-ciri
sebagai berikut :
-
Bersifat padat karya (banyak
menyerap tenaga kerja )
-
Menggunakan ketrampilan setempat
-
Menggunakan alat setempat
-
Menggunakan bahan setempat
-
Berdasarkan kebiasaan atau
pengamatan.
2) pengertian kemiskinan
Kemiskinan pada dasarnya merupakan
salah satu bentuk problem yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya
masyarakat di Negara-negara yang sedang berkembang. Masalah kemiskinan ini
menuntut adanya suatu upaya pemecahan masalah secara berencana, terintegrasi
dan menyeluruh dalam waktu yang singkat. Upaya pemecahan masalah kemiskinan
tersebut sebagai upaya untuk mempercapat proses pembangunan yang selama ini
sedang dilaksanakan.
Istilah kemiskinan sebenarnya bukan
merupakan suatu hal yang asing dalam kehidupan kita. Kemiskinan yang dimaksud
di sini adalah kemiskinan ditinjau dari segi material (ekonomi).
Menurut Prof. dr. emil Salim yang
dimaksud dengan kemiskinan adalah merupakan suatu keadaan yang dilukiskan
sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok.
Atau dengan istilah lain kemiskinan
itu merupakan ketidak mampuan dalam memenuhi kebutuhan pokok, sehingga
mengalami keresahan, kesengsaraan atau kemelaratan dalam setiap langkah
hidupnya.
Factor-faktor timbulnya kemiskinan
Ada beberapa factor yang menyebabkan
timbulnya kemiskinan yaitu :
a.
Pendidikan yang terlampau rendah
Dengan adanya tingkat pendidikan
yang rendah menyebabkan seseorang kurang mempunyai keterampilan tertentu yang
diperlukan dalam kehidupannya. Keterbatasan pendidikan/keterampilan yang
dimiliki menyebabkan keterbatasan kemampuan untuk masuk dalam dunia kerja. Atas
dasar kenyataan di atas dia miskin karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk
memenuhi kebutuhan pokoknya.
b.
Malas bekerja
Sikap malas merupakan suatu masalah
yang cukup memprihatinkan, karena masalah ini menyangkut mentalitas dan
kepribadian seseorang. Adanya sikap malas ini seseorang bersikap acuh tak acuh
dan tidak bergairah untuk bekerja. Atau bersikap pasif dalam hidupnya (sikap
bersandar pada nasib). Sikap malas ini cenderung untuk menggantungkan hidupnya
pada orang lain, baik dari keluarga, saudara atau family yang dipandang
mempunyai kemampuan untuk menanggung kebutuhan hidup mereka.
c.
Keterbatasan sumber alam
Kemiskinan akan melanda suatu
masyarakat apabila sumber alam nya tidak lagi memberikan keuntungan bagi
kehidupan mereka. Sering dikatakan oleh para ahli, bahwa masyarakat itu miskin
karena memang dasarnya “alamiah miskin”.
Alamiah miskin yang dimaksud di sini
adalah kekayaan alamnya, misalnya tanahnya berbatu-batu, tidak menyimpan
kekayaan mineral…dan sebagainya. Dengan demikian layaklah kalau miskin sumber
daya alam miskin juga masyarakatnya.
d.
Terbatasnya lapangan kerja
Keterbatasan lapangan kerja akan
membawa konsekuensi kemiskinan bagi masyarakat. Secara ideal banyak orang
mengatakan bahwa seseorang/masyarakat harus mampu menciptakan lapangan kerja
baru. Tetapi secara factual hal tersebut kecil kemungkinannya, karena adanya
keterbatasan kemampuan seseorang baik yang berupa “skill” maupun modal.
e.
Keterbatasan modal
Keterbatasan modal adalah sebuah
kenyataan yang ada di Negara-negara yang sedang berkembang, kenyataan tersebut
membawa kemiskinan pada sebagian besar masyarakat di Negara tersebut. Seorang
miskin sebab mereka tidak mempunyai modal untuk melengkapi alat ataupun bahan dalam rangka menerapkan keterampilan
yang mereka miliki dengan suatu tujuan untuk memperoleh penghasilan.
Keterbatasan modal bagi Negara-negara
yang sedang berkembang dapat diibaratkan sebagai suatu lingkaran yang tak
berujung pangkal baik dari segi permintaan akan modal maupun dari segi
penawaran akan modal.
f.
Beban keluarga
Semakin banyak anggota keluarga akan
semakin banyak/meningkat pula tuntunan/beban untuk hidup yang harus dipenuhi.
Seseorang yang mempunyai anggota keluarga banyak apabila tidak diimbangi dengan
usaha peningkatan pendapatan sudah pasti akan menimbulkan kemiskinan karena
mereka memang berangkat dari kemiskinan. Kenaikan pendapatan yang dibarengi
dengan pertambahan jumlah keluarga, berakibat kemiskinan akan tetap melanda
dirinya dan bersifat laten.
Dalam kenyataannya, sistem
perekonomian, sistem tata nilai dan sikap manusia dalam mengelola kekayaan alam
yang dikuasai sangat berlainan. Di satu pihak orang ingin selalu (terus
menerus) meningkatkan kekayaan dan taraf hidupnya setinggi mungkin. Di pihak
lain ada penduduk dunia yang cukup santai dalam menggunakan kekayaan
sumber-sumber daya tanpa memperdulikan upaya-upaya pelestariannya.
Peperangan, konflik politik dan
adanya pengungsian penduduk yang masih dan terus berlangsung di dunia hingga
saat ini menunjukan adanya sikap tamak manusia dan sukarnya dicapai kesamaan
pandangan dalam hal memanfaatkan sumber-sumber yang ada. Kalau secara teori dan
teknis, dengan ilmu dan teknologinya orang telah dapat meningkatkan daya dukung
sumber-sumber dari kehidupan umat manusia yang lebih baik, dalam kenyataan nya
Negara-negara maju yang kaya dengan penduduk yang lebih sedikit telah menguasai
sebagian terbesar sumber-sumber daya yang ada di bumi, baik lewat pengaruh
kekuasaan politik maupun lewat sistem ekonomi liberal yang menjadikan
Negara-negara berkembang makin bergantung dan makin tertinggal dalam
perkembangan perekonomian dan taraf hidupnya.
Kesenjangan yang ada antara
Negara-negara industry maju dengan Negara berkembang makin melebar. Maka
muncullah akhir-akhir ini upaya-upaya menyelaraskan perkembangan dengan dialog
utara selatan, dan seruan yang cukup vocal untuk mewujudkan tata perekonomian
dunia baru.
Lepas dari upaya banyak bangsa untuk
mewujudkan tata kehidupan yang lebih berimbang, factor jumlah dan pengendalian
penduduk serta peningkatan pengetahuan merupakan hal-hal yang sangat esensial,
agar kehidupan penduduk Negara-negara berkembang dapat cepat meningkat secara
layak.
Dalam sejarah perkembangan
perekonomian dunia kemajuan telah dicapai lewat perjuangan dan kerja keras.
Pada saat ini banyak orang berpendapat bahwa alih teknologi tidaklah begitu
saja dapat diperoleh dan juga tidak selalu menjadikan obat mujarab bagi upaya
peningkatan perekonomian Negara-negara berkembang.
Dengan munculnya korporasi-korporasi
multi nasional, teknologi sekarang merupakan juga komoditi atau barang
dagangan, yang cenderung terkena juga praktek monopoli. Kalau teknik dapat
diartikan antara lain sebagai lapangan pengetahuan yang memusatkan perhatiannya
pada cara membuat atau membentuk benda-benda materil, yaitu dengan menciptakan
atau mewujudkan benda-benda nyata berdasarkan usaha manusia, maka teknologi
dapat diartikan sebagai ilmuyang menyelidiki cara-cara kerja dalam teknik.
Memang, teknologi sekarang dapat dibeli. Tetapi dengan teknologi maju yang
diimpor suatu masyarakat yang sedang membangun belum tentu memperoleh manfaat
yang sepadan; kalaupun tidak lalu menjadi demikian tergantung pada
penyedia/pemberi teknologi maju. Karena itu banyak Negara berkembang yang ilmu
dan teknologinya belum begitu maju ada kalanya lebih memilih pengembangan
teknologi madya terlebih dahulu, yaitu teknologi yang tidak memerlukan dasar
pengetahuan yang demikian canggihnya dan umumnya dalam penggunaannya masih menyerap
cukup banyak tenaga kerja. Di samping mencoba membuat terobosan-terobosan
melalui pengembangan teknologi maju untuk mengajar ketertinggalannya, Indonesia
juga menggalakkan pengembangan dan penerapan teknologi tepat guna, yaitu bentuk
teknologi yang lebih banyak mendayagunakan bahan-bahan setempat dan bersifat
member manfaat lansung kepada sebagian besar masyarakat yang berpenghasilan
kurang. Dengan menerapkan teknologi maju yang hanya memerlukan sedikit tenaga
(yang ahli) dampak negative yang mungkin timbul adalah : (1) diberhentikan
sebagian tenaga kerja, yang berarti menambah jumlah pengangguran, (2) karena
efisiensi kerja pemakayan teknologi maju yang tinggi, usaha-usaha industry
kecil yang masih memakai teknologi yang lebih bersahaya tak mampu bersaing dan
terancam bangkrut, (3) bila teknologi maju diperoleh lewat membeli, tanpa
disertai usaha menyiapkan pengetahuan yang diperlukan untuk melayani dan
mengembangkannya, akan cenderung terjadi ketergantungan yang berkelanjutan
kepada pihak pemberi/penyedia teknologi maju tersebut.
Dalam kenyataan nya sekarang, banyak
Negara berkembang menjadi demikian
bergantung kepada Negara-negara industry maju oleh sebab keinginan kuat segera
menerapkan teknologi maju seperti yang banyak terdapat di negeri industri, dan
dengan begitu saja menerapkan teori pengembangan sebagaimana yang telah berlaku
atau dipakai oleh Negara Eropa dan Amerika. Ketergantungan tidak saja terbatas
pada bidang ilmu dan teknologi (lewat bantuan saran-saran para konsultan dan
program pendidikan dan latihan yang dihadiahkan oleh Negara-negara industri
maju), tetapi juga dibidang perekonomian dan keuangan Negara yang bersangkutan.
Ini ternyata dari banyaknya Negara berkembang yang mengalami kesulitan dalam
pengembalian pinjaman (hutang) dari Negara industri sementara terus menemui
kesulitan dalam pembiayaan pembangunannya, yang berakibat adanya upaya untuk
menangguhkan atauu penjadwalan kembali pembayaran hutang Negara-negara
berkembang yang angka debt-serviceratio-nya (DRS =angka rasio nilai ekspor dan
jumlah hutang luar negeri yang harus di bayar setahun) sudah demikian tinggi.
Upaya peningkatan taraf kehidupan
tida lepas dari masalah kependudukan. Masalah penduduk menyangkut persoalan
jumlah dan persoalan mutu. Keberhasilan peningkatan taraf hudup tidaklah
bergantung semata-mata pada kemampuan fisik yang lebih baik. Kualitas non fisik
penduduk yang serupa sikap hemat, disiplin, kerja keras, semangat mengembangkan
diri dan sebagainya merupakan factor-faktor yang tidak kalah pentingnya bagi
usaha meningkatkan taraf hidup. Jepang mmerupakan satu contoh bangsa yang telah
demikian berhasil dengan cepat meningkatkan taraf hidup dan perekonomiannya
(baik sejak masa restorasi maupun dalam kebangkitannya kembali dari kehancuran
oleh kalah perang) dengan modal kualitas non fisik penduduknya.
Secara umum peningkatanperekonomian
akan bergantung pada tersedianya modal dan juga tingginya produktivitasusaha.
Modal akan terbentuk lewat investasi dari hasil tabungan. Orang akan lebih bisa
menabung kalau hidupnya hemat. Sedang produktivitas usaha akan berkaitan dengan
pengetahuan, efisiensi kerja dan factor-faktor lain yang berkaitan dengan
kualitas non fhisik penduduk.
d.
Teknologi dan kemiskinan
Salah satu penyebab kesengsaraan
atau penderitaan manusia adalah kemiskinan. Kemiskinan biasanya sejalan dengan
kelaparan dan wabah penyakit, yang sering kali terjadi di Negara-negara yang
sedang berkembang. Lapisan masyarakat banyak yang hidup dalam kemiskinan
berusaha mati-matian untuk dapat mencapai kehidupan yang menyenangkan. Tetapi
kebanyakan tetap tinggal terhambat pada garis kemiskinan dan bahkan di bawah
kemiskinan.
Perlu diketahui salah satu unsure
terpenting dalam pertumbuhan ekonomi adalah kemajuan teknologi.
Kemajuan teknologi mengakibatkan
dalam struktur produksi maupun dalam komposisi tenaga kerja yang diperlukan
dalam proses produksi mengalami perubahan. Bagi tenaga kerja yang mempunyai
ketrampilan teknis yang tinggi, akan terbuka lebih banyak kesempatn-kesempatan
kerja yang baik. Tetapi tenaga kerja yang tida berketrampilan atau yang hanya
mempunyai ketrampilan rendah akan tergeser akan kadang-kadang kehilangan sama
sekali pekerjaan mereka.
Selama dua dasawarsa (1960 – 1980)
yang baru lalu beberapa Negara berkembang dari hasil pembangunan telah
mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat malahan lebih pesat dari yang pernah dialami oleh
Negara-negara industry barat selama tahap-tahap permulaan dari proses
industrialisasi mereka, namun pertumbuhan ekonomi yang pesat tersebut pada
umumnya ternyata tidak terlalu berhasil dalam penyediaan kesempatan kerja yang
produktif bagi penduduk.
Bahkan di Negara-negara yang telah
mengalami penurunan dalam prosentase penduduk yang hidup dibawah garis
kemiskinan penurunan relatip sering di tiadakan oleh pertambahan penduduk yang
pesat, sehingga hamper tidak mengurangi jumlah absolute penduduk yang miskin.
Salahsatu kasus yang dapat disebut dalam hubungan tersebut adalah pulau jawa,
yang selama masa 1967-1976 telah mengalami penurunan yang cukup besar dalam
persentase penduduk yang hidup dalam kemiskinan, namun gagal dalam mengurangi
secara berarti jumlah absolute penduduk yang miskin, karena pertumbuhan
penduduk yang pesat.
Di samping tidak tercapainya
pengurangan secara berarti dari kemiskinan, penganguran serta setengah
penganguran, maka pertumbuhan ekonomi yang pesat di banyak Negara berkembang
juga disertai oleh ketimpangan yang semakin meningkat dalam pembagian
pendapatan (ketimpangan relatif) hal tersebut memang tidak mengherankan bagi
ahli lain ekonomi. Misalnya Kuznets mengemukakan bahwa dalam masa pertumbuhan
ekonomi selalu ada ketimpangan redistribusi pendapatan, dimana dalam
pertumbuhan ekonomi yang cepat, golongan berpenghasilan rendah selalu
ketinggalan kemajuan, tidak mampu mengikuti berpartisipasi. Karenanya mereka
tidak mampu memanpaatkan proses redistribusi pendapatannya.
Di Indonesia pola perkembangan
pembangunan juga mengikuti pendapatan yang dikemukakan Kuznets, artinya
golongan miskin kurang terjamah oleh hasil-hasil pertumbuhan ekonomi. Mengapa
mereka tidak terangkat, padahal pemerintah telah mengambil kebijaksanaan
penyebaran proyek-proyek ke daerah-daerah, desa-desa, misalnya adanya kredit
bimas, KIK, KMKP, KCK, padat karya dan sebagainya.
Bila diteliti golongan-golongan
miskin yang tidak terjamah oleh hasil-hasil pembangunan, karena :
a)
Ketimpangan dalam peningkatan
pendidikan.
Selama belum ada kewajiban belajar
golongan miskin tida akan mampu berpartisipasi mengenyam peningkatan anggaran
pendidikan.
b)
Ketidakmerataan kemampuan untuk
berpartisipasi. Untuk berpartisipasi diperlukan tingkat pendidikan,
ketrampilan, relasi, dan sebagainya. Golongan miskin tidak memilikinya.
c)
Ketidakmerataan pemilikan alat-alat
produksi. Golongan miskin tidak memiliki alat-alat produksi, penghasilannya
untuk makan saja sudah susah, sehingga tidak mungkin membentuk modal.
d)
Ketidakmerataan kesempatan terhadap
modal dan kredit yang ada. Modal dan kredit pemberiannya menghendaki
syarat-syarat tertentu dan golongan miskin tidak mungkin memenuhi
persyaratanya.
e)
Ketidamerataan menduduki
jabatan-jabatan. Untuk mendapat pekerjaan yang dapat memberi makan pada
keluarga saja sudah susah, apalagi menduduki jabatan-jabatan yang sering
memerlukan relasi tertentu dan persyaratan tertentu.
f)
Ketidamerataan mempengaruhi pasaran.
Karena miskin dan pendidikannya rendah, maka tidak mungkin golongan niskin
dapat mempengaruhi pasaran.
g)
Ketidamerataan kemampuan menghindari
musibah misalnya penyakit, kecelakaan, dan ketidaberuntungan lainnya. Bagi
golongan miskin dibutuhkan bantuan untuk dapat mengatasi musibah tersebut.
Mengharapkan dari mereka sendiri untuk dapat mengangkat dirinya tanpa
pertolongan, sukar dipastikan.
h)
Laju pertambahan penduduk lebih memberatkan
golongan miskin. Dengan jumlah keluarga besar, mereka sulit dapat
menyekolahkan, member makan, dan pakayan secukupnya. Hanya keluarga yang kaya
atau berpenghasilan besar sajalah yang mampu.
Dapatlah dipastikan bahwa golongan
berpenghasilan rendah, karena kurang terjamah pendidikan, tidak memiliki
sarana-sarana misalnya kredit, modal, alat-alat produksi, relasi dan
sebagainya, tidak akan mampu berpartisifasi dalam pertumbuhan ekonomi dan
menikmati pembagian hasil-hasilnya tanpa adanya kebijaksanaan khusus yang
ditujukan untuk mengangkat mereka.
Penelitian yang diadakan di daerah
perkotaan di jawa, sundrum telah menemukan bahwa selama tahun 1970 sampai tahun
1976 ternyata pembagian pendapatan memburuk, terutama di ibukota Jakarta. Dari
hasil survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) menunjukan bahwa selama kurun
waktu 1970 sampai 1976 persentase penduduk Indonesia yang miskin yaitu hidup di
bawah tingkat kemiskinan telah berkurang. Hal tersebut berlaku baik bagi
Indonesia sebagai keseluruhan, maupun jika diadakan perincian menurut daerah
pedesaan dan daerah perkotaan, baik di jawa maupun di luar jawa. Tingkat hidup
absolute semua golongan masyarakat telah meningkat, sehingga kemiskinan
absolute di Indonesia selama Repelita 1 dan tahun-tahun pertama Repelita 11
telah berkurang. Perhitungan berbagai peneliti dapat disimpulkan bahwa
persentase penduduk Indonesia yang miskin telah menurun dari hamper 60% dalam
tahun 1970 sampai kurang lebih 45% dalam tahun 1976.
Di lain pihak hasil-hasil SUSENAS
telah memperlihatkan, bahwa pembagian pendapatan selama kurun waktu yang sama
telah memburuk. Hal tersebut disebabkan karena laju kenaikan pendapatan
golongan yang berpendapatan tinggi telah meningkat jauh lebih pesat daripada
penaikan golongan yang berpendapatan rendah.
Di samping perkembangan tersebut,
maka pembagian pendapatan antara penduduk daerah perkotaan dan daerah pedesaan
juga telah memburuk. Hal tersebut disebabkan karena laju kenaikan pendapatan
penduduk perkotaan selama kurun waktu 1970 sampai 1976 rata-rata bertambah dua
setengah kali lebih cepat dari pada penduduk pedesaan.
Juka dirinci menurut daerah maka
ketimpangan antara pendapatan penduduk perkotaan dan pedesaan di jawa lebih
besar daripada di luar jawa.
Usaha mengatasi kemiskinan
Dari kegagalan kebijaksanaan
konversional mengenai pertumbuhan ekonomi di banyak Negara berkembang dalam
mengurangi kemiskinan, pengangguran dan disparitas ( ketimpangan) pendapatan
secara berarti telah memaksa baik para perencana ekonomi dan teknokrat maupun
para peneliti ekonomi untuk kembali mempelajari secara sungguh-sungguh
kebijaksanaan tersebut, serta mendorong mereka untuk mempelajari
alternative-alternatif yang realities bagi kebijaksanaan pertumbuhan ekonomi
yan konvensional. Dalam hal ini; pendekatan kebutuhan dasar dalam perencanaan
pembangunan merupakan hasil yang logis dari sesuatu proses reorientasi yang
panjang dalam pemikiran tentang pembangunan.
Dari hasil-hasil penelitian kemudian
pusat perhatian para ahli lambat laun mulai bergeser dari tekanan pada penciptaan
lapangan kerja yang memadai ke penghapusan kemiskinan, dan akhirnya ke
penyediaan barang-barang dan jasa-jasa kebutuhandasar bagi seluruh penduduk,
yang berupa dua perangkat, yaitu :
a)
Perangkat kebutuhan konsumsi
perorangan akan pangan, sandang dan pemukiman.
b)
Perangkat yang mencakup penyediaan
jasa umum dasar, seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, saluran air minum,
pengangkutan, dan kebudayaan.
Di samping kedua perangkat tersebut,
kebutuhan dasar atau kebutuhan dasar manusiawi kadang-kadang juga digunakan
untuk mencakup tiga sasaran lain, yaitu:
1)
Hak atas pekerjaan produktif dan
yang memberikan imbalan yang layak, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan
dasar setiap rumah tangga atau perorangan.
2) Prasarana yang mampu menghasilkan barang-barang dan
jasa-jasa dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk.
3)
Partisipasi seluruh penduduk, baik
dalam pengambilan keputusan maupun dalam pelaksanaan proyek-proyek yang
berhubungan dengan penyediaan barang-barang dan jasa-jasa kebutuhan dasar.
Pengalaman dari Negara-negara Asia
Timur,yaitu korea, Taiwan, jepang menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi yang
pesat dengan disertai pemerataan hasil-hasil pembangunan dapat tercapai karena
di Negara-negara tersebut program pembangunan pedesaan (rural development
program) sangat diutamakan.
sumber :http://www.wasiclub.id/2016/04/teknologi-dan-kemiskinan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar